Showing posts with label Muslimah. Show all posts
Showing posts with label Muslimah. Show all posts

Wednesday, 11 September 2019

Jadi Pintar Aturan Aurat Perempuan Di Luar Sholat


Di sebutkan dalam kitab fiqih bahwa aurat seorang perempuan di luar Sholat ialah seluruh tubuhnya, namun realitanya sedikit sekali para muslimah yang menutupi seluruh tubuhnya termasuk wajah dan telapak tangannya.

Pertanyaan:
Adakah perbedaan pendapat Ulama perihal aurat perempuan di luar Sholat

Jawaban: ada dengan rincian.

  • Seluruh badan tanpa terkecuali ini khusus pada para istri rasul.
  • Seluruh badan kecuali muka dan telap tangan, dan sebagian ‘Ulama menambahkan boleh bagi perempuan yang bercocok tanam boleh membuka kedua kakinya.

: وعبارته
وينقسم الحجاب ثلاثة أقسام أحدها خاص بنساء الرسول صلى الله عليه وسلم واثنان يعمان نساء الرسول صلى الله عليه وسلم ، وغيرهن.فالاول أن تستر المرأة جميع بدنهاحتى وجهها وكفيها، وهو الذي نزلت أيات الحجاب في شأن نساء الرسول صلى الله عليه وسلم وهو خاص بهن.الثاني أن تستر المرأة جميع بدنها الا الوجه والكـفين وزاد بعض العلماء القدمين للفقيرات اللواتي يشتغلن في المزارع ، وذلك قوله تعالى يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ. الاحزاب وقوله تعالى وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ. الثالث: أن لايكون إختلاط بين النساء والرجال الا مع ذي محرم وهو عام لنساء النبي صلى الله عليه وسلم وغيرهن (خلاصة نور اليقين

عورة ( الحرة ) الصغيرة والكبيرة ( في صلاتها وعند الأجانب ) ولو خارجها ( جميع بدنها إلا الوجه والكفين ) ظهرا وبطنا إلى الكوعين لقوله تعالى ( ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها ) أي وما ظهر منها وجهها وكفاها وانما لم يكونا عورة حتى يجب سترهما لان الحاجة تدعو الى ابرازهما. (الحواشي المدانية

وأما الحرة فعورتها في الصلاة جميع بدنها إلا الوجه والكفين ظهرا وبطنا إلى الكوعين لقوله تعالى ( ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها ) قال المفسرون وابن عباس وعائشة رضي الله عنهم هو الوجه والكفان ولأنهما لو كانا من العورة لما كشفتهما في حال الإحرام وقال المزني القدمان ليسا من العورة مطلقا ( كفاية الأخيار ) الشاملة

وَعَوْرَةُ الْحُرَّةِ في الصَّلَاةِ وَعِنْدَ الْأَجْنَبِيِّ وَلَوْ خَارِجَهَا جَمِيعُ بَدَنِهَا إلَّا الْوَجْهَ وَالْكَفَّيْنِ ظَهْرًا وَبَطْنًا إلَى الْكُوعَيْنِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إلَّا ماظَهَرَ منها قال ابن عَبَّاسٍ وَغَيْرُهُ ما ظَهَرَ منها وَجْهُهَا وَكَفَّاهَا وَإِنَّمَا لم يَكُونَا عَوْرَةً لِأَنَّ الْحَاجَةَ تَدْعُو إلَى إبْرَازِهِمَا وَإِنَّمَا حُرِّمَ النَّظَرُ إلَيْهِمَا لِأَنَّهُمَا مَظِنَّةُ الْفِتْنَةِ وَمِثْلُهُمَا في ذلك ما عَدَا ما بين سُرَّةِ وَرُكْبَةِ من فيها رِقٌّ كما يُعْلَمُ ذلك من بَابِ النِّكَاحِ ( أسنى المطالب في شرح روض الطالب

Referensi :
Khalashah nurul yaqin juz 2, hal 40-41
Hawasyi almadaniyah juz 1, hal 276
Kifayatul ahyar hal 119
Asnal mathalib juz 1, hal 176

Monday, 12 August 2019

Jadi Cendekia Asal Penciptaan Dan Kedudukan Wanita Dalam Alquran


Asal Penciptaan dan Kedudukan Perempuan Dalam Alquran. Berbicara mengenai kedudukan wanita, mengantarkan kita supaya terlebih dahulu mendudukkan pandangan Al-Quran perihal asal insiden perempuan. Dalam hal ini, salah satu ayat yang sanggup diangkat yaitu firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 13, "Wahai seluruh manusia, tolong-menolong Kami telah membuat kau (terdiri) dan lelaki dan perempuan, dan Kami jadikan kau berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kau saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kau yaitu yang paling bertakwa."

Ayat ini berbicara perihal asal insiden insan - dan seorang lelaki dan perempuan - sekaligus berbicara perihal kemuliaan insan - baik lelaki maupun perempuan - yang dasar kemuliaannya bukan keturunan, suku, atau jenis kelamin, tetapi ketakwaan kepada Allah Swt. Memang,secara tegas sanggup dikatakan bahwa perempuan dalam pandangan Al-Quran memiliki kedudukan terhormat. Dalam hal ini Mahmud Syaltut, mantan Syekh Al-Azhar, menulis dalam bukunya Min Tawjihat Al-Islam bahwa, "Tabiat kemanusiaan antara lelaki dan perempuan hampir sanggup (dikatakan) sama. Allah telah menganugerahkan kepada perempuan- sebagaimana menganugerahkan kepada lelaki -potensi dan kemampuan yang cukup untuk memikul tanggungjawab, dan mengakibatkan kedua jenis kelamin ini sanggup melakukan aktivitas-aktivitas yang bersifat umum maupun khusus.

Karena itu, hukum-hukum syariat pun meletakkan keduanya dalam satu kerangka. Yang ini (lelaki) menjual dan membeli, mengawinkan dan kawin, melanggar dan dihukum, menuntut dan menyaksikan, dan yang itu (perempuan) juga demikian, sanggup menjual dan membeli, mengawinkan dan kawin, melanggar dan dihukum, serta menuntut dan menyaksikan. Ayat Al-Quran yang terkenal dijadikan tumpuan dalam pembicaraan perihal asal insiden perempuan yaitu firman Allah dalam surat An-Nisa, ayat 1: "Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah membuat kau dari nafs yang satu (sama), dan darinya Allah membuat pasangannya, dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan lelaki dan perempuan yang banyak."

Banyak sekali pakar tafsir yang memahami kata nafs dengan Adam, menyerupai contohnya Jalaluddin As-Suyuthi, Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, Al-Biqa'i, Abu As-Su'ud, dan lain-lain. Bahkan At-Tabarsi, salah seorang ulama tafsir bermazhab Syi'ah (abad ke-6 H) mengemukakan dalam tafsirnya bahwa seluruh ulama tafsir setuju mengartikan kata tersebut dengan Adam.

Beberapa pakar tafsir menyerupai Muhammad 'Abduh, dalam tafsir Al-Manar, tidak beropini demikian; begitu juga rekannya Al-Qasimi, Mereka memahami arti nafs dalam arti "jenis." Namun demikian, paling tidak pendapat yang dikemukakan pertama itu, menyerupai yang ditulis Tim Penerjemah Al-Quran yang diterbitkan oleh Departemen Agama. yaitu pendapat dominan ulama. Dari pandangan yang beropini bahwa nafs yaitu Adam, dipahami pula bahwa kata zaujaha, yang arti harfiahnya yaitu "pasangannya," mengacu kepada istri Adam, yaitu Hawa.

Agaknya alasannya yaitu ayat diatas membuktikan bahwa pasangan tersebut diciptakan dari nafs yang berarti Adam, para penafsir terdahulu memahami bahwa istri Adam (perempuan) diciptakan dari Adam sendiri. Pandangan ini, kemudian melahirkan pandangan negatif terhadap perempuan, dengan menyatakan bahwa perempuan yaitu bab dari lelaki. Tanpa lelaki, perempuan tidak akan ada. Al-Qurthubi, misalnya, menekankan bahwa istri Adam itu diciptakan dari tulang rusuk Adam sebelah kiri yang bengkok, dan alasannya yaitu itu perempuan bersifat 'auja' (bengkok atau tidak lurus).

Kitab-kitab tafsir terdahulu hampir setuju mengartikannya demikian- Pandangan ini agaknya bersumber dari sebuah hadits yang menyatakan: "Saling pesan-memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan, alasannya yaitu mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok... " (HR At-Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Hadits diatas dipahami oleh ulama-ulama terdahulu secara harfiah. Namun tidak sedikit ulama kontemporer memahaminya secara metafora, bahkan ada yang menolak kesahihan (kebenaran) hadits tersebut. Yang memahami secara metafora beropini bahwa hadits diatas memperingatkan para lelaki supaya menghadapi perempuan dengan bijaksana, alasannya yaitu ada sifat, karakter, dan kecenderungan mereka yang tidak sama dengan lelaki - hal mana bila tidak disadari akan sanggup mengantarkan kaum lelaki bersikap tidak wajar. Mereka tidak akan bisa mengubah abjad dan sifat bawaan perempuan, kalaupun mereka berusaha kesannya akan fatal, sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk yang bengkok.

Ath-Thabathaba'i dalam tafsirnya menulis, bahwa ayat diatas menegaskan bahwa "perempuan (istri Adam) diciptakan dari jenis yang sama dengan Adam, dan ayat tersebut sedikit pun tidak mendukung paham sementara mufasir yang beranggapan bahwa perempuan diciptakan dari tulung rusuk Adam. Kita sanggup berkata, bahwa tidak ada satu petunjuk yang pasti dari ayat Al-Quran yang sanggup mengantarkan kita untuk menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk, atau bahwa unsur penciptaannya berbeda dengan lelaki.

Ide ini, menyerupai ditulis Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar-nya, timbul dan ilham yang termaktub dalam Perjanjian Lama (Kejadian II: 21-22) yang menyatakan bahwa saat Adam tidur lelap, maka diambil oleh Allah sebilah tulang rusuknya, kemudian ditutupkannya pula daerah itu dengan daging. Maka dari tulang yang telah dikeluarkan dan Adam itu, Allah membuat seorang perempuan. "Seandainya tidak tercantum dongeng insiden Adam dan Hawa dalam Kitab Perjanjian Lama menyerupai redaksi diatas, pasti pendapat yang menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam tidak pernah akan terlintas dalam benak seorang Muslim," demikian Rasyid Ridha- (Tafsir Al-Manar IV: 330)

Bahkan kita sanggup berkata bahwa sekian banyak teks keagamaan mendukung pendapat yang menekankan persamaan unsur insiden Adam dan Hawa, dan persamaan kedudukannya, antara lain surat Al-Isra' ayat 70, "Sesungguhnya Kami telah memuliakan bawah umur Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan (untuk memudahkan mereka mencari kehidupan). Kami beri mereka rezeki yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempuma atas kebanyakan makhluk-makhluk yang Kami ciptakan." Tentu, kalimat bawah umur Adam meliputi lelaki dan perempuan, Demikian pula penghormatan Tuhan yang diberikan-Nya itu meliputi bawah umur Adam seluruhnya, baik perempuan maupun lelaki.

Pemahaman ini dipertegas oleh surat Ali-Imran ayat 195 yang menyatakan, "Sebagian kau yaitu bab dari sebagian yang lain ..." Ini dalam arti bahwa sebagian kau (hai umat insan yang berjenis lelaki) berasal dari pertemuan ovum perempuan dan sperma lelaki dan sebagian yang lain (hai umat insan yang berjenis (perempuan) demikian juga halnya. Kedua jenis kelamin ini sama-sama manusia, dan tidak ada perbedaan diantara mereka dari segi asal insiden serta kemanusiaannya.

Dengan konsiderans ini, Allah menegaskan bahwa: "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal, baik lelaki maupun perempuan" (QS Ali 'Imran: 195) Ayat ini dan semacamnya yaitu perjuangan Al-Quran untuk mengikis habis segala pandangan yang membedakan lelaki dengan perempuan, khususnya dalam bidang kemanusiaan. Dalam konteks pembicaraan perihal asal insiden ini, sementara ulama menyinggung bahwa seandainya bukan alasannya yaitu Hawa, pasti kita tetap akan berada di surga. Disini sekali lagi ditemukan semacam upaya mempersalahkan perempuan.

Pandangan semacam itu terang sekali keliru, bukan saja alasannya yaitu semenjak semula Allah telah memberikan rencana-Nya untuk menugaskan insan sebagai khalifah di bumi (QS 2: 30), tetapi juga alasannya yaitu dari ayat-ayat Al-Quran ditemukan bahwa godaan dan rayuan Iblis itu tidak hanya tertuju kepada perempuan (Hawa) tetapi juga kepada lelaki. Ayat-ayat yang membicarakan godaan, rayuan setan, serta ketergelinciran Adam dan Hawa diungkapkan dalam bentuk kata yang memberikan kesamaan keduanya tanpa perbedaan, seperti, "Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya...QS, Al-A'raf: 20). "Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari nirwana itu, dan keduanya dikeluarkan dari keadaan yang mereka (nikmati) sebelumnya... (QS Al-Baqarah: 36).

Kalaupun ada ayat yang membicarakan godaan atau rayuan setan berbentuk tunggal, maka ayat itu justru menunjuk kepada kaum lelaki (Adam), yang bertindak sebagai pemimpin terhadap istrinya, menyerupai dalam firman Allah, Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya (Adam), dan berkata, "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepadamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan punah?" (QS Thaha: 120). Demikian terlihat Al-Quran mendudukkan perempuan pada daerah yang sewajarnya, serta meluruskan segala pandangan salah dan keliru yang berkaitan dengan kedudukan dan asal insiden kaum perempuan.

Monday, 25 February 2019

Jadi Pintar Apakah Anda Benar-Benar Sedang Haid Atau Istihadhah?


Sebagaimana klarifikasi haid pada artikel sebelumnya bahwa paling sedikitnya haid ialah sehari semalam (24 jam) sedangkan paling banyaknya haid ialah 15 hari meskipun darahnya tidak berturut-turut atau dapat dikatakan keluarnya darah bertahap (berceceran).

Misalnya keluar darah berceceran selama 15 hari dan kalau dikumpulkan mencapai 24 jam (paling sedikitnya haid) maka dikatakan haid. Namun kalau darah tersebut tidak hingga 24 jam maka tidak dikatakan haid sebab tidak mencapai paling sedikitnya haid. Makara semua kewajiban ibadah menyerupai shalat atau puasa wajib qadha’. Jika keluarnya darah melebihi 15 hari juga tidak dapat dikatakan haid tapi istihadhah. Penjelasannya akan aku bahas pada artikel selanjutnya sebab menghitung darah istihadhah termasuk kasus yang paling sulit.

Seperti yang aku katakan diatas bahwa kebiasaan haid ialah 6 hingga 7 hari meskipun darah tidak berturut-turut asalkan mencapai 24 jam, kalau tidak hingga 24 jam tidak dinamakan haid.
Paling sedikitnya muslimah haid pada sempurnanya umur 9 tahun, kalau kurang dari 9 tahun maka tidak dinamakan haid. Jika untuk mencapai 9 tahun kurang 15 hari (paling banyaknya haid) atau lebih sedikit, maka dapat dikatakan haid. Namun kalau 9 tahun  kurang 16 hari tidak dikatakan haid.

Misalnya ada anak perempuan berumur 9 tahun kurang 18 hari, maka 3 hari sebelumnya bukan haid dan 15 hari setelahnya termasuk haid. Masih bingung? Begini ya anggap saja berumur 9 tahun tepat pada tanggal 30, keluar darah tanggal 12. Maka pada tanggal 12, 13 dan 14 bukan haid, yang dikatakan haid hanya tanggal 15 – 30 saja.

Adapun waktu suci (tidak keluar darah) yang memisah pada waktu 15 hari (paling banyaknya haid) juga dikatakan haid menyerupai ada seorang perempuan haid 5 hari, suci 5 hari, kemudian haid lagi 5 hari. Dengan syarat:

  1. Waktu suci dan haid tidak melebihi 15 hari sebab kalau melebihi 15 hari tidak dikatakan haid (dihukumi istihadhah);
  2. Darah yang keluar tidak kurang dari paling sedikitnya haid (24 jam);
  3. Bukan suci yang memisah antara dua haid.

Paling sedikitnya suci yang memisah antara 2 haid ialah 15 hari, jadi dihentikan kurang dari 15 hari. Misalnya ada perempuan haid tanggal 1 hingga 5, dan suci pada tanggal 6 hingga 20, kemudian pada tanggal 21 – 25 keluar darah lagi. Dalam pola ini, tanggal 1 – 6 dikatakan haid tanggal 6 – 20 dikatakan suci yang memisah antara 2 haid, dan tanggal 21 – 25 dikatakan haid lagi atau haid kedua.

Jika masa suci kurang dari 15 hari maka aturan darah pertama mengikuti darah yang kedua asalkan tidak melebihi 15 hari. Contoh; ada perempuan keluar darah 15 hari (darah pertama) kemudian putus (tidak keluar darah) selama 5 hari kemudian keluar darah lagi (darah kedua), maka darah kedua tidak dinamakan haid sebab melebihi 15 hari dan masa suci kurang dari 15 hari.

Masa suci yang memisah antara 2 haid harus mencapai 15 hari sebab perempuan normalnya keluar darah dalam setiap bulannya, sedangkan paling banyaknya haid 15 hari.

Beda halnya dengan masa suci yang memisah antara haid dan nifas maka tidak disyaratkan mencapai 15 hari. Contoh; menyerupai perempuan hamil (boleh jadi perempuan hamil mengalami haid sekitar 1000:1) sebelum melahirkan dan suci (tidak keluar darah) 1 hari kemudian melahirkan dan nifas, maka darah sebelum melahirkan dinamakan darah haid. Atau ada orang nifas selama 60 hari kemudian suci selama 1 hari kemudian keluar darah lagi, maka darah tersebut dinamakan darah haid.

Kebanyakan ketika ini perempuan tidak menghitung darah yang keluar sama sekali, kalau keluar darah berapapun lamanya semuanya dinamakan darah haid. Seperti problem yang pernah dialami teman aku yang mengeluarkan darah selama 4 bulan tidak beraturan alias berantakan. Apakah semua itu dinamakan haid semua? Makara perhatikanlah darah yang keluar, dapat jadi haid atau istihadhah.

Jadi Arif Pengertian Darah Haid, Nifas Dan Istihadhah Dalam Kacamata Fiqih


Kita tahu bahwa seorang perempuan mempunyai kebiasaan mengeluarkan darah dari dalam rahimnya, mengetahui hal ini tentu ini sangat penting diketahui alasannya yakni akan berkaitan dengan boleh tidaknya perempuan muslimah melaksanakan shalat, puasa dan lain-lain. Sedangkan darah yang keluar ada 3 macam, yaitu darah haid, nifas dan istihadhah. Untuk pertama kali aku ingin membahas darah nifas terlebih dahulu ya.

A. Darah haid


Haid yakni darah yang mengucur dari rahim perempuan baligh (setidaknya umur 9 tahun sempurna), keluar ketika kondisi sehat, bukan alasannya yakni persalinan, keluar dari dalam rahim. Darah ini menjadi kebiasaan perempuan yang telah baligh, keluar di waktu tertentu. Nantinya akan menjadi darah kebiasaaan yang keluar pada waktu tertentu. Allah menetapkan hal ini demi sebuah pesan tersirat bagi tumbuh kembang janin (dalam perut). Tatkala seorang perempuan hamil, darah tesebut dengan ijin Allah bermetamorfosis asupan gizi baginya.

Oleh hasilnya perempuan hamil tidak mengalami haid. Dan tatkala masa bayi menyusui, Allah membalikkan darah tadi dengan hikmah-Nya menjadi air susu (ASI), sehingga bayi mendapat asupan gizi darinya. Oleh karenanya, hanya sedikit perempuan menyusui yang mengalami haid. Tatkala perempuan tidak lagi hamil dan menyusui, darah tersebut tetap berada di rahim tidak mengalami perubahan lalu keluar ibarat biasanya setiap bulan. (Al Mughni, 1/188)

Paling sedikitnya haid yakni sehari semalam (24 jam), sedangkan paling banyaknya haid yakni 15 hari.

B. Darah nifas


Darah nifas yakni darah yang keluar sesudah melahirkan dengan syarat keluarnya darah tidak ada jeda hingga 15 hari semenjak bayi lahir. Jika darah keluar sesudah 15 hari semenjak bayi lahir, maka tidak dinamakan darah nifas tapi dinamakan darah haid. Contoh: sesudah melahirkan (bukan ketika melahirkan) seorang perempuan tidak mengeluarkan darah sama sekali, dan 15 hari lalu mengeluarkan darah. Itu namanya darah haid bukan darah nifas.

Beda halnya kalau belum hingga 15 hari ibarat keluar darah sesudah 10 hari, maka pada masa 10 hari yang tidak keluar darah tetap dihitung nifas tapi dihukumi suci sehingga tetap wajib shalat dan puasa.

Paling sedikitnya darah nifas yakni satu tetes. Hmmm ada gak ya yang mempunyai nifas hanya setetes saja? Saya rasa sepanjang sejarah hanya Sayyidah Sitti Amina ra yang nifasnya hanya setetes ketika melahirkan Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan paling banyaknya darah nifas yakni 60 hari (bukan 2 bulan). Perlu diketahui bahwa 60 hari tidak menghitung adanya darah tapi semenjak bayi lahir, kalau darah keluar bersamaan dengan lahirnya bayi atau sebelum bayi kembar kedua tidak dapat dinamakan darah nifas tapi darah fasad (penyakit).

C. Darah istihadhah


Darah istihadhah yakni darah yang keluar selain haid dan nifas, yaitu:

  • Jika waktu haid, istihadhah yakni darah yang keluar melebihi 15 hari atau kurang dari sehari semalam (24 jam).
  • Jika waktu nifas, yakni darah yang keluar melebihi 60 hari
  • Termasuk istihadhah juga yakni darah perempuan yang belum berumur 9 tahun tepat (bisa kurang 1 atau 2 hari). Saya perjelas ya kalau seorang anak perempuan lahir tanggal 10 syawal (terhitung tanggal hijriyah) maka sempurnanya umur 9 tahun harus tanggal 10 syawal juga.

Macam-macam darah istihadhah


  1. Mubtadiah mumayyizah: perempuan haid pertama kali eksklusif istihadhah dengan keluar darah berbeda-beda;
  2. Mubtadiah ghairu mumayyizah: perempuan haid pertama kali eksklusif istihadhah dengan keluar darah sama (kebalikan poin 1);
  3. Mu’tadah mumayyizah: perempuan sudah biasa haid dan suci lalu istihadhah dengan keluar darah berbeda-beda;
  4. Mu’tadah ghairu mumayyizah dzakiran li’adatiha qodran wa waqtan: perempuan sudah biasa haid dan suci lalu istihadhah dengan keluar darah sama serta ingat terhadap kebiasaan usang dan waktu haidnya;
  5. Mu’tadah ghairu mumayyizah nasiyan li’adatiha qodran wa waqtan: perempuan sudah biasa haid dan suci lalu istihadhah dengan keluar darah sama serta lupa terhadap kebiasaan usang dan waktu haidnya. Dan perempuan ibarat ini termasuk perempuan mutahayyiroh (wanita yang resah dengan persoalan haidnya sendiri)
  6. Mu’tadah ghairu mmayyizah dzakiran li’adatiha qadran la waqtan: perempuan sudah biasa haid dan suci lalu istihadhah dengan keluar darah sama, ingat pada kebiasaan lamanya haid tapi lupa terhadap waktu haidnya.
  7. Mu’tadah ghairu mmayyizah dzakiran li’adatiha waqtan la qadran: perempuan sudah biasa haid dan suci lalu istihadhah dengan keluar darah sama, ingat pada waktu haidnya tapi lupa terhadap kebiasaan lamanya haid

Mungkin itu saja dari aku sekedar mengembangkan ilmu wacana darah haid, nifas dan istihadhah. Semoga dapat menjadi rujukan untuk anda kaum perempuan muslimah.

Monday, 4 February 2019

Jadi Pintar Pandangan Syariat Islam Wacana Cairan Keputihan Pada Wanita


Pandangan Syariat Islam Tentang Cairan Keputihan Pada Wanita. Dalam kitab-kitab fiqih banyak dijelaskan bahwa setiap segala sesuatu yang keluar dari kubul dan dubur ialah najis. Lalu bagaimana dengan cairan keputihan pada perempuan berdasarkan pandangan syariat islam?

Jawaban
Keputihan memang hampir dialami oleh setiap wanita. Keputihan ialah cairan atau lendir yang keluar dari vagina. Lendir yang normal umumnya berwarna bening hingga keputih-putihan dan tidak berbau. Jika tidak berciri demikian, maka lendir tersebut dikategorikan tidak normal, yaitu ada perubahan pada warna dan kekentalan di mana jumlah lendir yang berlebihan dan busuk lendir yang tajam.

Penyebab keputihan juga beragam. Salah satunya ialah lantaran kurang menjaga kebersihan vagina dengan baik. Lantas bagaimana hukumnya keputihan pada perempuan tersebut, apakah najis atau tidak?

Sebelum mengetahui najis atau tidaknya keputihan, maka sebaiknya kita menganalisa terlebih dahulu keputihan ini termasuk dalam kategori cairan apa. Di dalam Islam dikenal tiga jenis cairan yang keluar dari qubul (jalan depan). Pertama, mani/sperma. Kedua madzi, yakni cairan putih, bening, dan lengket yang keluar disebabkan bersyahwat atau ketika bermain-main birahi antara pria dan perempuan.

Perbedaan di antara keduanya sanggup dilihat dari (1) baunya. Umumnya mani ketika berair beraroma menyerupai busuk campuran roti dan tepung. Ketika mengering ia berbau menyerupai busuk telor. (2) mani keluarnya memuncrat. (3) mani ketika keluar terasa nikmat dan setelah itu melemahkan dzakar dan syahwat. Sedangkan madzi tidak muncrat serta tidak melemahkan dzakar.

Cairan ketiga ialah wadi, yaitu cairan putih yang lebih kental. Ia keluar setelah air seni (menurut kelaziman) atau ketika memikul beban yang berat (letih) sebagai keterangan yang kami pahami dari kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, juz II, halaman 141-142.

فَمَنِيُّ الرجل في حال صحته ابيض ثحين يَتَدَفَّقُ فِي خُرُوجِهِ دَفْعَةً بَعْدَ دَفْعَةٍ وَيَخْرُجُ بِشَهْوَةٍ وَيُتَلَذَّذُ بِخُرُوجِهِ ثُمَّ إذَا خَرَجَ يَعْقُبُهُ فُتُورٌ وَرَائِحَتُهُ كَرَائِحَةِ طَلْعِ النَّخْلِ قَرِيبَةٌ مِنْ رَائِحَةِ الْعَجِينِ وَإِذَا يَبِسَ كَانَتْ رَائِحَتُهُ كَرَائِحَةِ الْبَيْضِ.

Dari tiga jenis cairan ini, dua yang terakhir yakni madzi dan wadi ialah berhukum najis . sedangkan mani berhukum suci sebagaimana telah dijelaskan oleh Imamus Syafi’i dalam Kitab Al-Umm.

كل ما خَرَجَ من ذَكَرٍ من رُطُوبَةِ بَوْلٍ أو مَذْيٍ أو وَدْيٍ أو ما لاَ يُعْرَفُ أو يُعْرَفُ فَهُوَ نَجِسٌ كُلُّهُ ما خَلاَ المنى

Artinya, “Setiap kencing, madzi, wadzi atau sesuatu yang tidak diketahui atau diketahui yang keluar dari penis (kemaluan potongan depan) maka semua hukumnya najis kecuali mani.”

Dari klarifikasi di atas, kami simpulkan bahwa cairan keputihan yang dialami oleh perempuan termasuk ke dalam jenis cairan yang ketiga, yaitu wadi. Ia sesuai dengan ciri-ciri dari wadi, yakni cairan keluar biasanya setelah kencing, atau lantaran kecapekan, dan tidak mengandung ciri dari mani maupun madzi yang lengket dan bersyahwat.

Simpulan kami, cairan keputihan juga berhukum najis. Ia harus dibersihkan terlebih dahulu dari kemaluan sebelum berwudhu dan melakukan shalat. Jika cairan ini mengenai benda lain yaitu pakaian atau lainnya, maka harus dicuci dengan cara dibasuh dengan air hingga hilang bau, warna, dan rasanya.

Demikian balasan singkat kami. Semoga sanggup dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam mendapatkan kritik dan saran dari para pembaca.

Wednesday, 30 January 2019

Jadi Arif Bagaimana Niat Mandi Perempuan Yang Haid Sekaligus Junub


Seperti kita ketahui bersama bahwa seseorang yang hadats besar menyerupai hadats alasannya yaitu junub, haid nifas dan sebagainya, diwajibkan melaksanakan mandi besar. Ada yang bilang niat hadats untuk haid berbeda dengan niat junub menyerupai pertanyaan berikut ini:

Pertanyaan:
Seandainya ada seorang istri tanggapan dari haid, tapi beliau belum sempat mandi besar, dan sang suami eksklusif mencvmbuinya. Bagaimana niat mandi / adusnya? Karena hadastnya haid dan junub tersebut?

Jawaban:
Niatnya mandi besar untuk menghilangkan hadats besar, meskipun beliau dalam keadaan belum mandi besar dari haid dan juga belum mandi besar sehabis jima' itu hanya cukup mandi wajib sekali saja. Niat nya cukup satu saja lirof'i hadasil akbari, tapi perlu diketahui bahwa perempuan dihentikan j!mak atau dij!mak bila perempuan tersebut masih haid atau belum suci dari haid, meskipun sudah higienis tak ada darah tapi bila belum mandi wajib, maka masih haram jima'.

"Qaidah ke sembilan : Apabila ada dua perkara yang sejenis dan maksud (tujuannya) tidak berbeda berkumpul jadi satu maka secara umum salah satunya masuk kepada yang lain".

Di antara yang masuk dalam qaidah ini yaitu : Apabila hadats dan junub berkumpul menjadi satu, maka cukup mandi saja berdasarkan madhab Syafi'i, menyerupai halnya berkumpulnya junub dan hadats dan hadats alasannya yaitu haid, maka cukup mandi satu saja.

Jika (kewajiban) mandi haid dan jinabah berkumpul pada seorang wanita, maka cukup baginya niat salah satunya saja. Walaahu A'lam.

Sumber:
www.piss-ktb.com
Al-Asybah Wannadho-ir
Tuhfatul Mukhtaj
Mughnil Mukhtaj

Sunday, 2 September 2018

Jadi Arif Jangan Bersedih, Tiap Pria Tertarik Kepada Perempuan


Wahai muslimah yang budiman, judul diatas bukan sembarang judul semata, tetapi itu merupakan fakta. Apabila muslimah merasa minder, sedih, takut tidak ada satu pria pun yang akan mencintai, buang pikiran itu jauh-jauh kini juga. Jangan bersedih alasannya ialah pria tertarik kepada perempuan.

Tidak ada pria tidak berminat atau tertarik untuk mengenali nama-nama perempuan. Terdapat aneka macam cara pria untuk mengenal perempuan. Melalui cara itu pria akan lebih mengenal wanita dan memahami kehendak perempuan. Melalui perhatian yang dilakukan, pria mengenali wanita sebagai seorang yang:

  1. Mudah tersinggung kalau hatinya terusik terutama yang membangkitkan perasaan
  2. Mudah jemu dan memerlukan suasana yang berbeda untuk menghilangkan rasa bosan
  3. Sangat memerlukan cinta lantaran memandang pria sebagai orang yang dicintainya dan mencoba menyesuaikan dirinya dengan pria yang dicintainya
  4. Suka dipuji walaupun ia tahu bahwa pria itu berdusta asalkan tidak menyakitinya bahkan sanggup membahagiakan dirinya
  5. Tidak percaya kepada pria walaupun kekasih atau suaminya begitu menyayanginya. Keadaan ini disebabkan perasaan gelisah dan sangsi lebih banyak dirasakan oleh perempuan
  6. Berhati sentimental lantaran naluri dan perasaan wanita yang penuh dengan kelembutan sensitif, perasa dan lebih suka terpengaruh oleh bunyi hatinya dibanding oleh akalnya
  7. Suka memaksa pria lantaran beliau menganggap pria ialah insan yang sanggup menghilangkan rasa bosan. Dan alasannya ialah itulah wanita memaksa pria supaya merayu dan memanjakannya. Walaupun begitu, wanita tidak sanggup kejam kepada pria malah lebih rela berlaku kejam kepada dirinya sendiri
  8. Cemburu. Ini lantaran wanita lebih cenderung mempertahankan harga diri, kepentingan pribadi, kepentingan keluarga dan anak-anak
  9. Bersikap penggoda lantaran wanita senantiasa memikirkan cara untuk memenangi hati pria dengan memakai daya tarik badan dan wajahnya untuk tujuan tersebut. Sebab itu wanita suka memperagakan pakaian yang seksi ditempat umum.

Hal-hal yang disebutkan diatas bukan untuk merendahkan martabat perempuan. Dengan mengetahui hal ini, pria sanggup mengetahui lebih dalam mengenai sifat-sifat perempuan. Bagi perempuan, mengetahui kelebihan dan kelemahan dirinya ialah penting sebagai persiapan menghadapi apa saja kemungkinan yang akan dilakukan oleh laki-laki.

Jadi Terpelajar Jangan Bersedih, Nikmatilah Rasa Sakit


Banyak muslimah menganggap bahwa rasa sakit yaitu segala penderita yang tidak sepantasnya terulang kembali. Rasa sakit ini bahkan bagi sebagian kata telah menjadi momok seram ketika kembali mengingatnya. Dalam bukunya "La Tahzan", Aidh al-Qarni menjelaskan dengan gamblang mengenai nikmatnya rasa sakit.

Aidh al-Qarni menegaskan dengan cerdas bahwa rasa sakit tidak selamanya tak berharga, sehingga harus selalu dibenci. Sebab, mungkin saja rasa sakit itu justru akan mendatangkan kebaikan bagi seseorang. Biasanya ketulusan sebuah oa muncul tatklala rasa sakit mendera. Demikian pula dengan ketulusan tasbih yang senantiasa terucap ketika rasa sakit terasa. Adalah jerih payah dan beban berat ketika menuntut itulah yang telah mengantarkan seorang pelajar menjadi ilmuwan terkemuka.

Masih berdasarkan al-Qarni bahwa perjuangan keras seorang penyair menentukan kata-kata untuk bait-bait syairnya telah menghasilkan sebuah karya sastra yang sangat menawan. Ia dengan hati urat syaraf, dan darahnya, telah larut bersama kerja kerasnya itu, sehinga syair-syairnya bisa menggerakan perasaan dan menggoncangkan hati

Begitu juga dengan upaya keras seorang penulis telah menghasilkan goresan pena yang sangat menarik dan peuh dengan ‘ibrah’, contoh-contoh dan petunjuk. Lain dengan halnya dengan seorang pelajar yang bahagia hidupnya foya-foya, tidak aktif, tidak pernah terbelit masalah, tidan tidak pula tertimpa musibah. Ia akan selalu menjadi orang yang malas, enggan bergerak, dan gampang putus asa.

Qarni juga menambahkan bahwa seorang penyait yang tidak pernah mencicipi pahitnya berusaha dan tidak pernah mereguk pahitnya hidup, maka untaian qasihdah-qasihdah-nya hanya akan terasa menyerupai kumpulan kata-kata murahan yang tidak bernilai. Sebab qasidah-qasidah-nya hanya keluar dari lisannya, bukan dari perasaannya. Apa yang ia utarakan hanya sebatas penarannya saja dan bukan dari hati nuraninya.

Qarni memberi referensi bahwa pola kehidupan yang baik yaitu kehidupan kaum mukmin generasi awal. Yaitu, mereka yang hidup pada masa-masa awal kerasulan, lahirnya agama, dan diawal masa perutusan. Mereka yaitu orang-orang yang mempunyai keimanan yang kokokh, hati yang baik, bahasa yang bersahaja dan ilmu yang luas. Mereka mencicipi keras dan pedihnya kehidupan. Mereka pernah merasa kelaparan, miskin, diusir, disakiti, dan harus rela meninggalkan semua yang dicintai, disiksa, bahkan dibunuh. Dan lantaran semua itu pula mereka menjadi orang-orang pilihan. Mereka menjadi tanda kesucian, panji kekebalan, panji kebajikan dan simbol pengorbanan.

"...Yang demikian itu ialah lantaran mereka ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu daerah yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpa sesuatu tragedi kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu amal salih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik" (QS. At-Taubah : 120)

Oleh lantaran itu, tak usah bersedih bila Anda harus bersusah payah, khususnya kaum muslimah, dan tak usah takut dengan beban hidup, lantaran mungkin saja beban hidup itu akan menjadi kekuatan bagimu, serta akan menjadi sebuah kenikmatan pada suatu hari nanti. Qarni menegaskan bahwa kalau Anda hidup dengan penuh hati yang berkobar, cinta yang membara dan jiwa yang bergelora, akan lebih baik dan lebih terhormat dari pada harus hidup dengan perasaan yang dingin, semangat yang layu dan jiwa yang lemah.

Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan harapan mereka, dan dikatakan kepada mereka : "Tinggallah kau bersama orang-orang yang tinggal itu" (QS. At-Taubah : 46)

Qarni mencontohkan seorang penyair yang ia kagumi mempunyai semangat hidup tinggi, pengabdian terhadap kehidupan yang tidak asal. Kehiupan baginya selalu punya makna. Dialah Malik ibn ar-Rayyib. Ia menyesali dirinya :

Tidakkah kau lihat saya menjual kesesatan dengan hidayah dan saya menjadi seorang pasukan Ibnu Affan yang berperang Alangkah indahnya aku, tatkala saya biarkan anak-anakku taat dengan mengorbankan kebun dan semua harta-hartaku wahai kedua sahabat perjalananku, ajal semakin bersahabat berhentilah di daerah tinggi lantaran saya akan tinggal malam ini. Tinggallah bersamaku malam ini atau setidaknya malam ini jangan kau buat lari ia, telah terang yang akan menimpa Goreslah daerah tidurku denganujung gerigi dan kembalikan ke depan mataku kelihatan selendangku Jangan kau iri, semoga Allah memberkahi kau berdua dari tanah yang demikian lebar, semoga makin luas untukku.

Demikianlah, ungkapan-ungkapannya demikian syahu, penyesalan yang sangat berat iucapkan, dan teriakan yang memilukan. Itu semua menggambarkan betapa kepedihan itu meluap dari hati sang penyair yang mengalami sendiri kepedihan dan kesengsaraan hidup. Ia tak ubahnya seorang penasehat yang juga pernah mencicipi apa yang ia ucapkan. Dan, biasanya, perkataan atau nasehat orang menyerupai itu akan gampang masuk ke dalam relung kalbu dan meresap kedalam ruh yang paling dalam. Semua itu yaitu lantaran ia mengalami sendiri kehidupan pahit dan beban berat yang ia bicarakan.

"... Maka, Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka kemudian menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi akibat kepada mereka dengan kemenangan yang bersahabat (waktunya)". (QS. Al-Fath : 18)

Jangan cela orang yang sedang kasmaran sampai belitan keras deritamu berada dalam derita dirinya
Menurut Qarni, karya-karya yang demikian itu tak ubahnya dengan potongan-potongan es dan bongkahan-bongkahan tanah; cuek dan tawar. Semua itu, tak lain lantaran nasehat-nasehat itu tidak terucap dari verbal seseorang yang berlangsung pernah mengalami dan menghayati sendiri suatu kesedihan dan kesengsaraan.

"... Mereka menyampaikan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya" (QS. Ali ‘Imran : 167)

Agar ucapan Anda sanggup menyentuh hati pembacanya, masukanlah terlebih dahulu kedalamnya. Sentuhlah, rasakanlah, dan resapilah pasti Anda akan bisa memperlihatkan sentuhan ke tengah masyarakat

"Kemudian, apabila telah Kami turunkan air diatasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan banyak sekali macam tumbuh-tumbuhan yang indah" (QS. Al-Hajj : 5)

Wahai muslimah, tentulah klarifikasi diatas bila menjadi pelipur kita semua perihal bagaimana menikmati rasa sakit. Bahwa rasa sakit itu akan menjadi ‘sahabat’ yang lama-lama, sebagai seorang 'sahabat' maka ia tidak aka menyakiti meskipun namanya sudah terlarut rasa sakit.

Jadi Bakir Jangan Bersedih Kesulitan Bukan Alasan Muslimah Untuk Bersedih


Hikmah dari kesulitan sangatlah besar. Banyak dari muslimah yang tidak menyadarinya. Kesulitan itu ialah mutiara terpendam dalam kelangsungan hidup kita. Diantaranya kesulitan memuat hal-hal berikut ini

Kesulitan bergotong-royong akan menguatkan hati, menghapus dosa, menghancurkan rasa ujub, dan menguburkan rasa sombong
Kesulitan akan meluruhkan kelalaian, menyalakan lentera dzikir, menarik tenggang rasa sesama, menjadi do’a yang dipanjatkan oleh orang-orang yang soleh

Kesulitan merupakan wujud tunduk kepada tiran, merupakan sebuah menyerahan diri kepada Allah

Kesulitan merupakan sebuah peringatan dini, biar upa untuk menghidupkan dzikir

Kesulitan merupakan upaya untuk menjaga hati dengan bersabar

Kesulitan merupakan persiapan untuk menghadap Sang Tuhan, dan sebuah sentilan untuk tidak cenderung kepada dunia, merasa kondusif dan hening dengannya. Karena kelembutan yang tersembunyi itu jauh lebih besar, dosa yang ditutupi itu jauh lebih besar, dari kesalahan yang dimaafkan juga jauh lebih besar.

Berpikir dan Bersyukur . Ingatlah setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada anda. Karena Dia telah melipatkan nikmat-Nya dari ujung rampbut sampai ke bawah kedua telapak kaki. "jika kau menghitung nikmat Allah, pasti kau tidak akan sanggup menghitungnya" (QS. Ibrahim: 34).

Kesehatan badan, keamanan negara, udara dan air, semuanya tersedia dalam hidup kita. Namun begitulah, Anda melihat dunia, tetapi tidak pernah menyadarinya. Anda menguasai kehidupan, tetapi tidak pernah mengetahuinya. "Dan, Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan bathi" (QS. Luqman: 20)

Anda mempunyai dua mata, satu lidah, dua bibir dua tangan dan dua kaki. Apakah Anda tidak menyadari nikmat luar biasa itu? "Maka nikmat Rabb kau yang manakah yang kau dustakan?" (QS. Ar-Rahman 13)

Apakah Anda mengira bahwa, berjalan dengan kedua kaki itu sesuatu yang mudah? Sedangkan kaki seringkali menjadi bisul bila dipakai jalan terus-menerus tanpa henti. Apakah Anda mengira bahwa bangkit tegak di atas kedua betis itu sesuatu yang menyenangkan, sedangkan keduanya sanggup saja tidak berpengaruh dan suatu ketika akan patah?.

Maka saadarilah, betapa hinanya diri kita manakala tertidur lena, ketika sanak saudara disekitar Anda masih ramai yang tidak sanggup tidur alasannya sakit yang ditanggungnya? Pernahkah Anda merasa nista manakala sanggup menyantap masakan yummy dan minuman cuek ketika masih ramai orang di sekitar Anda yang tidak sanggup makan dan minum alasannya sakit.

Coba pikirkan, betapa besar fungsi pendengaran, yang dengannya Allah menjauhkan Anda dari ketulian. Coba renungkan dan sentuhlah kembali mata Anda itu yang tidak buta. Ingatlah dengan kulit Anda yang terbebas dari penyakit lepra dan supak. Dan renungkan betapa dahsyatnya fumhsi nalar Anda yang selalu sehat dan terhindar dari kegilaan yang menghinakan.

Apakah Anda ingin menukar mata Anda dengan emas sebesar gunung?  Menjual telinga Anda seharga perak satu bukit? Apakah Anda mau membeli istana-istana yang menjulang tinggi  dengan pengecap Anda sampai Anda menjadi bisu? Maukah Anda menukar kedua tangan Anda dengan untaian mutiara sehinggalah tiada yang tersisa lagi untuk diri Anda sendiri?

Begitulah, bergotong-royong Anda berada berada dalam kenikmatan tiada tara dan kesempurnaan tubuh, tetapi Anda tidak menyadarinya. Anda tetap merasa resah, suntuk, murung dan gelisah meskipun Anda masih empunyai nasi hangat untuk disantap, air segar untuk diteguk, waktu yang hening untuk tidur selenanya, dan kesehatan untuk terus dilakukan kebaikan didunia yang fana ini.

Anda seringkali memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga Anda pun lupa mensyukuri yang terseia ada dihadapan mata. Jiwa Anda gampang tergoncang hanya alasannya kerugian bahan yang mendera. Sesungguhnya Anda masih memegang kunci kebahagiaan, mempunyai jembatan penghantar kebahagiaan, karunia-Nya, kenikmatan dan sebagainya. Maka pikirkanlah semua itu, dan kemudian sama-samalah kita bersyukur

"Dan, pada dirimu sendiri. Maka apakah kau tidak memperhatikannya" (QS. Adz-Dzariyat : 21)

Pikirkan dan renungkan apa yang terjadi pada diri, keluarga, rumah, pekerjaan, kesehatan, dan apa saja yang tersedia disekeliling Anda. Dan janganlah termasuk golongan. "Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya" (QS. An-Nahl : 83).

Saturday, 1 September 2018

Jadi Bakir Jangan Bersedih, Ketahuilah, Rela Ialah Kunci Menjadi Kaya


Kaya disini bukan bergelimang akan harta, tetapi citra bahwa orang yang rela yaitu orang yang paling kaya hati. Kekayaan hati itu tidak akan habis hingga kematian manusia. Penyair dan andal filsafat sudah banyak menerjemahkan topik ini dalm karya-karyanya. Mereka berupaya menyadarkan banyak orang wacana keampuhan perilaku rela tersebut.

Aidh al-Qarni menyebutkan bahwa sebelumnya, hal ini banyak dijelaskan; yakni beberapa makna dan faidah dari kerelaan hati seseorang dalam mendapatkan setiap kontribusi atau ketentuan Allah. Namun, ia akan membahasnya secara lebih panjang lebar untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik. Singkatnya, makna perilaku ini yaitu bahwa Anda harus rela hati dan puas dengan setiap kontribusi Allah; baik itu yang berupa raga, harga, anak, kawasan tinggal ataupun talenta kemampuan. Dan, makna inilah yang tersirat dari ayat al-Qur’an berikut:

"Sebab itu, berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kau termasuk orang-orang yang bersyukur" (QS. Al-A’raf : 144)

Qarni menyebutkan bahwa sebagian besar ulama salafus salih dan generasi awal; umat ini yaitu orang-orang yang secara bahan termasuk fakir miskin. Mereka tidak mempunyai harta yang berlimpah, rumah yang megah, kendaraan yang bagus, dan juga pengawal pribadi. Meski demikian, mereka ternyata bisa menciptakan kehidupan ini justru lebih bermakna serta menciptakan diri mereka dan masyarakatnya lebih bahagia. Yang demikian itu, yaitu alasannya yaitu mereka senantiasa memanfaatkan setiap kontribusi Allah di jalan yang benar.

Menurut Qarni, umur, waktu, dan kemampuan atau keterampilan mereka menjadi penuh berkah. Kebalikan dari kelompok insan yang diberkahi ini yaitu mereka yang dikarunia Allah dengan kekayaan yang meruah, anak yang banyak dan nikmat yang berlimpah. Tetapi semua itu justru menimbulkan diri mereka senantiasa merasa oenuh penderitaan, kecemasan dan kegelisahan. Adapun penyebabnya, tak lain yaitu alasannya yaitu mereka telah menyimpang dari fitrah dan tuntunan hidup yang benar. Ini menjadi bukti konkret bahwa segala sesuatu (kekayaan, anak, pangkat, jabatan, kehormatan, dan lain sebagainya) yaitu bukan segala-galanya.

Qarni menegtaskan betapa banyak sarjana atau doktor yang tidak sanggup menawarkan kontribusi, pemikiran, dan efek cukup bagi masyarakatnya. Namun sebaliknya; tak sedikit duduk perkara insan dengan ilmu dan kemampuannya yang sangat terbatas justru bisa membangun sungai yang senantiasa mengalirkan manfaat kebaikan, dan kemakmuran bagi sesama manusia. Jika Anda ingin bahagia, maka terimalah dengan rela hati bentuk perawakan badan yang diciptakan Allah untuk Anda, apapun kondisi keluarga Anda, bagaimanapun bunyi Anda, menyerupai apapun kemampuan daya tangkap dan pemahaman Anda, serta seberapapun penghasilan Anda.

Jelaslah apa yang dikemukakan diatas wahai muslimah, bahwa rela akan membawa kita pada kekayaan hati yang tidak sanggup diukur besarnya. Sebagai muslimah kita harus menanamkan perilaku rela dan mengamalkan setiap hari dalam kehidupan sehari-hari dan kehidupan beragama kita.

Jadi Berakal Wahai Muslimah, Ikhlaslah Dan Jangan Mengharapkan Terima Kasih


Banyak diantara kita selalu ingin sempurna. Kesempurnaan itu pun banyak yang dikehendaki sebagai pengakuan. Muslimah harus waspada atas sikap itu. Sikap berlebihan yang berujung pada kesombongan. Hendaknya kita sebagai muslimah harus senantiasa menanamkan keikhlasan. Berpasrah diri hanya kepada-Nya. Wahai muslimah, sadarilah satu hal bahwa Allah membuat setiap hamba biar selalu mengingatnya, dan ia menganugerahkan rezeki kepada setiap makhluk ciptaan-Nya, biar mereka bersyukur kepada-Nya. Namun, mereka justru ramai yang menyembah dan bersyukur kepada selain Dia.

Ingkar merupakan sikap yang wajib dijauhi. Muslimah harus sangat berhati-hati. Oleh karena, hal itu sangat menjerumuskan. Kebisaan jelek untuk mengingkari, membangkang, dan meremehkan sesuatu kenikmatan ialah penyakit yang umum menimpa jiwa manusia. Karena itu, Anda tidak perlu heran dan galau apabila mendapat mereka yang mengingkari kebaikan yang pernah Anda berikan, mencampakkan budi baik yang telah Anda tunjukkan. Lupakan saja bakti yang telah Anda persembahkan. Bahkan tidak usah galau apabila mereka hingga memusuhi Anda dengan sangat keji dan membenci Anda hingga mendarah daging, alasannya semua itu mereka lakukan ada justru lantaran Anda telah berbuat baik kepada mereka.

"Dan, mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya) kecuali lantaran Allah dan Rasul-Nya telah melimpahan karunia-Nya kepada mereka" (QS. At-Taubah : 74)

Dalam sebuah kisah diceritakan wacana seorang ayah yang telah memelihara anaknya dengan baik. Ia memberinya makan, pakaian dan dan minum, mendidiknya hingga menjai seorang yang pandai, rela tidak tidur demi anaknya, rela untuk tidak makan asalkan anaknya kenyang, dan bahkan mau bersusah payah biar anaknya bahagia. Namun apakah imbalan seorang anak kepada ayahnya yang telah banyak berkorban untuknya? Ketika sudah berpengaruh tulang-tulangnya, anak itu bagaikan anjing galak yang selalu menggonggong kepada orang tuanya. Ia tidak hanya berani menghina, tetapi juga melecehkan, hirau tak acuh, congkak dan bersifat durhaka terhadap orang tuanya. Dan semua itu, ia tunjukkan melalui perkatan dan tindakan.

Oleh lantaran itu, sesiapa saja yang kebaikannya diabaikan dan dilecehkan oleh orang-orang yang menyalahi fitrahnya, sudah seharusnya menghadapi semua itu dengan pikiran yang dingin. Dan, ketenangannya ibarat itu akan mendatangkan akibat pahala dari Dzat Yang Perbendaharaan-Nya yang tidak akan pernah habis dan selalu sirna.

Ajakan ini bukan pula untuk menyuruh Anda meninggalkan kebaikan yang telah Anda lakukan selama ini, atau biar Anda sama sekali tidak berbuat baik kepada orang lain. Ajakan ini hanya ingin, biar Anda tidak goyah, dan terpengaruh sedikitpun oleh kekejian dan pengingkaran mereka atas semua kebaikan yang telah Anda perbuat. Dan janganlah Anda bersedih dengan apa saja yang mereka perlakukan.

Berbuatlah kebaikan hanya demi Allah semata, maka Anda akan menguasai keadaan, tidak akan pernah terusik oleh kebencian mereka, tidak pernah merasa terancam oleh perlakukan keji mereka. Anda harus bersyukur kepada Allah lantaran sanggup berbuat baik ketika orang –orang disekitar Anda berbuat jahat. Dan, ketahuilah bahwa tangan yang selalu memberi itu lebih baik dari tangan yang sering menerima.

"Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan ALLAH. Kami tidak mengharapkan akibat daripada kau dan tidak pula (ucapan) terima kasih" (QS. Al-Insan : 9)

Masih ramai orang cendekia yang sering hilang kendali dan menjadi kacau pikirannya ketika menghadapi kritikan atau cercaan pedas daripada orang-orang sekitarnya. Terkesan, mereka seakan-akan belum pernah mendengar wahyu Allah yang menjelaskan dengan terang wacana sikap golongan insan yang selalu mengingkari Allah. Dalam wahyu itu dikatakan :

"Tetapi sesudah kami menghilangkan ancaman itu daripadanya, ia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seakan-akan ia tidak pernah berdo’a kepada Kami untuk (menghilangkan) ancaman yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan" (QS. Yunus : 12)

Anda tidak perlu terkejut manakala menghadiahkan sebatang pena kepada orang bebal, kemudian ia memakai pena tersebut untuk menulis cemoohan kepada Anda. Dan Anda tidak usah terkejut, apabila orang yang Anda beri tongkat untuk menggiring domba gembalanya justru akan memukul kepada Anda dengan tongkat hadiah darimu. Itu semua ialah tabiat dasar insan yang selalu mengingkari dan tidak pernah bersyukur kepada Penciptanya sendiri Yang Maha Agung dan Mulia. Begitulah, kepada Tuhannya saja mereka berani membangkang dan mengingatkan, apalagi kepada sesama dan juga Anda.

Jadi Bakir Menikmati Rasa Senang Dengan Penuh Rasa Syukur


Siapa diantara kita tidak ingin bahagia. Tentu saja tiap dari kita, tiap dari muslimah sangat menginginkan itu. Tetapi tentu saja tidak setiap waktu kita akan mendapat kebahagiaan. Dan, tidak setiap kebahagiaan pun akan sama dengan kebahagiaan yang pernah kita alami sebelumnya. Meskipun begitu, muslimah pasti sadar bahwa kebahagiaan merupakan sebuah kenikmatan dari Allah yang selalu kita tunggu kedatangannya

Dalam La-tahzan, Qarni menyebutkan bahwa diantara kenikmatan terbesar yaitu kebahagiaan, ketentraman, dan ketenangan hati. Sebab dalam kebahagiaan hati itu terdapat keteguhan pikir, produktifitas yang bagus, dan keriangan jiwa. Kata banyak orang, kebahagiaan merupakan seni yang sanggup dipelajari. Artinya, siapa yang mengetahui cara memperoleh, mencicipi dan menikmati kebahagiaan, maka ia akan sanggup memanfaatkan banyak sekali kenikmatyan dan fasilitas hidup, baik yang ada didepan maupun yang masih jauh berada dibelakangnya

Ia menambahkan bahwa modal utama untuk meraih kebahagiaan yaitu kekuatan atau kemampuan diri untuk menanggung beban kehidupan, tidak gampang goyah oleh goncangan-goncangan, tidak gentar oleh peristwa-peristiwa, dan tidak pernah sibuk memikirkan hal-hal kecil yang sepele. Begitulah, semakin berpengaruh dan jernih hati seseorang, maka akan semakin bersinar pula jiwanya. Hati yang sabar, lemah tekad, rendah semangat, dan selalu gelisah tak ubahnya dengan gerbong kereta yang mengangkut kesedihan, kecemasan dan kekhawatiran

Menurutnya, barangsiapa membiasakan jiwanya bersabar dan tahan terhadap segala benturan, pasti goncangan apapun dan tekanan dari manapun akan terasa ringan. Diantara musuh utama kebahagiaan yaitu wawasan yang sempit, pandangan yang picik, dan egoisme. Karena itu, Allah melukiskan musuh-musuh-Nya yaitu sebagaimana berikut :

"...Mereka dicemaskan oleh diri mereka sendiri"(QS. Ali`Imran: 154)

Qarni menjelaskan bahwa orang-orang yang berwawasan sempit senantiasa melihat seluruh alam ini menyerupai apa yang mereka alami. Mereka tidak pernah memikirkan apa yang terjadi pada orang lain, tidak pernah hidup untuk orang lain, dan tidak pernah memperhatikan sekitarnya. Memang ada kalanya kita harus memikirkan diri kita sendiri dan menjaga jarak dari sesama, yaitu tatkala kita sedang melupakan kepedihan, kegundahan, an kesedihan kita. Dan, itu artinya kita sanggup mendapat dua hal secara bersamaan: membahagiakan diri kita dan tidak merepotkan orang lain. Sastu hal fundamental dalam seni mendapat kebahagiaan yaitu bagaimana mengendalikan dan menjaga pikiran biar tidak terpecah.

Apalagi jika Anda tidak mengendalikan pikiran Anda dalam setiap melaksanakan sesuatu, pasti ia tidak akan terkenali. Ia akan gampang membawa Anda pada berkas-berkas kesedihan masa lalu. Dan pikiran liar yang tak terkendali itu tak hanya akan menghidupkan kembali luka lama, tetapi juga membisikkan masa depan yang mencekam. Ia juga sanggup membuat badan gemetar, kepribadian goyah, dan perasaan terbakar. Kendalikan pikiran Anda ke arah yang baik dan mengarah pada perbuatan yang bermanfaat.

"...Dan, bertawakkallah kepada Dzat Yang maha hidup dan tidak pernah mati". (QS. Al-Furqan: 58)

Masih berdasarkan Qarni, hal fundamental yang tak sanggup dilupakan dalam mempelajari cara meraih kebahagiaan yaitu bahwa Anda harus menempatkan kehidupan ini sesuai dengan porsi dan tempatnya. Bagaimanapun, kehidupan ini laksana permainan yang harus diwaspadai. Pasalnya, ia sanggup menylut kekejian, kepedihan, dan bencana. Jika demikian halnya sifat-sifat dunia, maka mengapa ia harus begitu siperhatikan dan ditangisi saat gagal diraih. Keindahan hidup di dunia ini acapkali palsu, janji-janjinya hanya fatamorgana belaka, apapun yang ia lahirkan senantiasa berekhir pada ketiadaan, orang yang paling bergelimang dengan hartanya yaitu orang yang paling merasa terancam, dan orang yang selalu memuja dan memimpikannya akan mati terbunuh oleh pedang waktu yang pasti tiba.

Satu hal fundamental yang sangat penting diperhatikan yaitu bahwa kebahagiaan itu tidak tiba begitu saja. Tapi, harus diusahakan dan dipenuhi segala sesuatu yang menjadi prasaratnya. Lebih dari itu, untuk mencapai kebahagiaan Anda harus senantiasa menahan dari hal-hal yang tak bermanfaat. Bagitulah cara memompa jiwa biar senantiasa siap diajak mencari kebahagiaan. Kehidupan dunia ini bahu-membahu tidak berhak membuat kita bermuram durja, pesimistis dan lemah semangat.

Adalah suatu kenyataan yang terelakkan jika Anda tidak akan bisa menyapu higienis noda-noda kesedihan dari Anda. Karena bagaimanapun, memang menyerupai itulah kehidupan dunia ini tercipta.

"Kami telah membuat insan dalam susah payah". (QS. Al-Balad: 4).

"Sesungguhnya, Kami membuat insan dari setetes m@ni yang bercampur yang Kami hendak mengujinya". (QS. Al-Insan: 2)

"Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kau yang paling baik amalnya". (QS. Al-Mulk: 2)

Qarni berkeyakinan, kita, tiap-tiap manusia, khususnya kaum muslimah sudah sangat diketahui tabiatnya oleh Sang Pencipta. Semua itu kenyataan. Maka, Anda hanya berkewajiban mengurangi dan bukan menghilangkan kesedihan, kecemasan dan kegundahan pada diri Anda. Sebab, kesedihan itu akan sirna bersama akar-akarnya hanya di syurga kelak. Terbukti, dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa para penduduk syurga akan ada yang berkata,

"Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan sedih cita dari kami". (QS. Fathir: 34)

Qarni menambahkan bahwa ini merupakan arahan kesedihan yang hanya akan tersapu higienis dari seseorang tatkala ia sudah berada di syurga kelak. Dan, ini sama halnya dengan nasib kedengkian yang tak akan benar-benar musnah kecuali sesudah insan masuk surga.

"Dan, kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada di dalam hati mereka" (QS. Al-Hijr: 47)

Qarni meyakini orang yang mengetahui apa dan bagaimana dunia, pasti ia akan sanggup menghadapi setiap rintangan an menyikapi tabiatnya yang bergairah dan pengecut itu. Dan kemudian, ia akan menyadari bahwa memang demikianlah sifat dan susila dunia itu. Jika benar dunia menyerupai yang kita gambarkan di atas, maka sungguh pantas bagi orang yang bijak, arif serta waspada untuk tidak gampang mengalah pada kesengsaraan, kesusahan, kecemasan, kegundahan, dan kesedihan dalam hidupnya. Sebaliknya, mereka harus melawan semuanya itu dengan seluruh kekuatan yang telah Allah karuniakan kepadanya.

Wahai muslimah yang dimuliakan Allah, kiranya klarifikasi sudah sangat terperinci bahwa, kebahagiaan memang masih diiringi dengan kesengsaraan, kesusahan, kecemasan dan lain sebagainya. Hendaknya, sebagai muslimah kita wajib mensyukuri segala kebahagiaan sebagaimana kita mensyukuri segala kesengsaraan atau kesussahan.

Jadi Cendekia Tips Muslimah Untuk Mengetahui Kriteria Calon Suami Yang Baik


Wahai muslimah, untuk mendapat pria idaman yang baik, perlu kiranya anda mengenali sifat dan tabiat pria tersebut. Kenapa? Sebab, bila anda sudah mengenalinya, diperlukan pria itu memang pantas buat anda. Berikut ini ialah kriterianya:

Yang berkemampuan; Artinya bisa ialah punya kesanggupan dalam melaksanakan segala hal untuk kelangsungan rumah tangga dan keluarga

Boleh dijadikan sebagai pengganti ayah bunda; Sanggup melindungi wanita dari segala ancaman dan kecelakaan yang menimpa alasannya ialah apabila seorang wanita rela dinikahi, berarti ia rela melepaskan dirinya dari ayah bunda yang selama ini menjadi kawasan pergantungan hidup. Kini berpindah kepada lelaki yang akan menjadi suaminya.

Pandai menjaga derajat diri; apabila berbicara diamalkan; Selain itu suami yang baik akan senantiasa mengajak isteri ke arah kebaikan, menjauhkan yang mungkar. Begitu juga isteri yang baik. Seringkali ia mengajak suami kearah kebaikan dan sering mengingatkan.

Mampu membantu istri dalam urusan rumah tangga; bisa memasak, menjahit juga membantu mencuci alasannya ialah lelaki yang biasa menciptakan kerja begini, tidak akan membebankan istrinya kerja dirumah sekiranya istri tidak mampu. Seperti dikala istri sedang sakit atau melahirkan, maka suami yang menggantikan pekerjaan rumah. Bukan malah dibebankan kepada ibu mertua, dan asyik bersantai ria atau keluyuran menyerupai masih bujangan.

Mempunyai iktikad kepada wanita dan tidak gampang bersangka buruk; Biasanya apabila suami bertugas mencari nafkah maka istri akan menjaga segala amanah harta dan anak di rumah. Sekiranya suami tidak memiliki iktikad kepada istri, ini berarti akan senantiasa menyangka buruk. Begitu juga istri jangan berbuat sesuatu yang mungkin bisa memicu suami berprasangka buruk.

Rajin, berpemikiran luas dan tidak memakan harta perempuan; Lelaki begini ialah ciri-ciri yang tidak pemalas, ingin majudan tidak mengharapkan jerih payah istri.

Praktis memaafkan; Apabila murka tidak berlarut-larut dan berilmu menyimpulkan suatu duduk masalah dengan tepat.

Berasal dari keturunan orang yang baik-baik; setidaknya memiliki etika dan akal bahasa mulia.