Kognitif ialah proses dan produk yang terjadi dalam otak sehingga menghasilkan pengetahuan. Kognitif meliputi banyak sekali acara mental menyerupai memperhatikan, mengingat, melambangkan, mengelompokkan, merencanakan, menalar, memecahkan masalah, menghasilkan dan membayangkan. Perkembangan kognitif anak melibatkan ketrampilan berguru pada anak yang terjadi melalui proses klarifikasi terperinci di dalam otak (mind), dan kegiatan mental internal yang kompleks. Dengan demikian keterampilan berguru bukan hanya diperoleh lantaran perubahan sikap atau sekedar lantaran proses kematangan.
Guru penting untuk memahami perkembangan kognitif anak. Dengan pemahaman yang baik, diperlukan guru sanggup memperlihatkan stimulasi yang sesuai dengan karakteristik anak dan mempunyai impian yang realistis terhadap anak didiknya. Perkembangan kognitif terkait dengan peningkatan kemampuan daya pikir atau logika akseptor didik seiring dengan perkembangan motorik anak. Gagasan pada anak sanggup ditumbuh kembangkan dengan memperlihatkan kesempatan berguru dengan banyak sekali gaya. Anak berguru dengan bermacam cara, diantaranya berguru memelui bermain (learning by gaming), berguru dengan melaksanakan kegiatan (learning by doing), berguru melalui stimulasi panca indra, dan berguru dengan segenap kecerdasan majemuknya.
Salah satu hebat perkembangan kognitif yang terkemuka ialah Jean Piaget (1896-1980) yang mengintegrasikan elemen-elemen psikologi, biologi, filosofi, dan logika dalam memperlihatkan klarifikasi menyeluruh perihal bagaimana pengetahuan bisa diperoleh individu. Tahap-tahap perkembangan daya pikir yang dikemukakan oleh Jean Piaget meliputi tahap:
1. Tahap sensori motor (lahir-18 bulan)
Pada tahap ini anak berguru melalui indra dan gerakan serta berinteraksi dengan lingkungan fisik. Melalui bergerak, meraba, memukul, menggigit dan memanipulasi obyek-obyek secara fisik anak berguru mengenal sifat ruang, waktu, lokasi, ketetapan, dan alasannya akibat.Perilakunya masih pra verbal. Anak memahami obyek disekitarnya melalui sensori dan acara motor serta gerakkannya. Reflek yang paling menonjol ialah reflek menghisap; bayi-bayi secara otomatis menghisap dikala bibir bayi disentuh.
Fase sensori motor dimulai dengan gerakan-gerakan reflek yang dimiliki anak semenjak ia dilahirkan. Fase ini berakhir pada usia 2 tahun. Pada masa ini, anak mulai membangun pemahaman perihal lingkungannya melalui kegiatan sensorimotor, menyerupai menggenggam, menghisap, melihat, melempar, dan secara perlahan ia mulai menyadari bahwa suatu benda tidak menyatu dengan lingkungannya atau sanggup dipisahkan dari lingkungan di mana benda itu berada. Selanjutnya ia mulai berguru bahwa benda-benda itu mempunyai sifat-sifat khusus. Keadaan ini mengandung arti bahwa anak telah mulai membangun pemahamannya terhadap aspek – aspek yang berkaitan dengan hubungan kuasalitas, bentuk dan ukuran, sebagai hasil pemahamannya terhadap acara sensorimotor yang dilakukannya.
Pada simpulan usia 2 tahun anak sudah menguasai pola –pola sensorimotor yang bersifat kompleks bagaimana cara mendapatklan benda yang diinginkannya (menarik, menggenggam atau meminta), memakai suatu benda dengan tujuan yang berbeda. Dengan benda yang ada di tangannya, ia melaksanakan satu benda dengan tujuan yang berbeda. Dengan benda yang ada di tangngannya, ia melaksanakan apa yang diinginkanya. Kemampuan ini merupakan awal kemampuan berpikir secara simbolik, yaitu kemampuan untuk memikirkan suatu objek tanpa kehadiran objek tersebut secara empiirik.
2. Tahap pra operasional (18 bulan – 6/7 tahun)
Pada tahap ini pedoman anak masih didominasi oleh hal-hal yang berkaitan dengan acara fisik dan persepsinya sendiri, sekalipun tidak selalu apa yang ada dalam pikirannya ditampilkan lewat tingkah laris konkret menyerupai pada periode sebelumnya. Menurut Siti Rahayu Haditono (1982), stadium pra operasional dimulai dengan penguasaan bahasa yang sistematis, permainan simbolik, imitasi, serta bayangan dalam mental. Semua proses ini memperlihatkan bahwa anak sudah bisa untuk melaksanakan tingkah laris simbolik.
Usia 18 – 24 bulan ditandai dengan internalized thought. Pada tahap ini anak mulanya memecahkan problem dengan memikirkannya terlebih dahulu melalui kesan mental (mental image). Mereka sanggup berguru menggandakan sikap orang lain.
Outcome perkembangan kognitif dan berguru anak usia 6 tahun antara lain:
Memahami angka dan bisa menghitung angka (minimal hingga 10)
Dapat menggambar sederhana
Dapat menulis kata-kata sederhana
Dapat menciptakan kalimat sederhana
Dapat bermain pura-pura
Memahami fungsi uang
3. Tahap operasional kongkret (8 - 12 tahun)
Pada tahapan ini yang sanggup dipikirkan oleh anak masih terbatas pada benda-benda kongkret yang sanggup dilihat dan diraba, benda-benda yang tidak jelas, yang tidak tampak dalam kenyataan masih sulit dipikirkan oleh anak. Kesulitan matematika lantaran upaya untuk mengajarkan anak yang masih dalam tahapan operasi kongkret dengan materi yang abstrak.
4. Tahap operasional formal (diatas 12 tahun)
Dalam tahap ini anak bisa mempertimbangkan semua kemungkinan dalam memecahkan problem dan bisa menalar atas dasar hipotesis dan dalil.Dampaknya anak sanggup meninjau problem dari banyak sekali faktor dikala memecahkan masalah.Pemikiran anak menjadi lebih kongkrit dan fleksibel dan mereka bisa menggabungkan warta dari sejumlah sumber yang berbeda.
Perkembangan dan pertumbuhan merupakan satu proses dalam kehidupan insan yang berlangsung secara terus-menerus semenjak masa konsepsi hingga selesai hayat. Perkembangan juga diartikan sebagai perubahan-perubahan yang dialami oleh seorang individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangan yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan baik itu menyangkut aspek fisik maupun psikis.
Sistematis, berarti perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling ketergantungan atau saling menghipnotis antara bagian-bagian organisme. Progresif, berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan mendalam (meluas) baik secara kuantitatif (fisik) maupun kualitatif (psikis). Berkesinambungan, berarti perubahan pada serpihan atau fungsi organisme itu berlangsung secara sedikit demi sedikit dan berurutan.
Perkembangan mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut:
Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti.
Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi.
Perkembangan mengikuti contoh atau arah tertentu.
Perkembangan terjadi pada daerah yang berlainan.
Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas.
Setiap individu yang normal akan mengalami tahapan/fase perkembangan.
Fase perkembangan sanggup diartikan sebagai penahapan atau pembabakan rentang perjalanan kehidupan individu yang diwarnai ciri-ciri khusus atau pola-pola tingkah laris tertentu. Para hebat mengemukakan pendapat yang berbeda wacana pembabakan atau periodisasi perkembangan ini. Pendapat-pendapat tersebut secara garis besar sanggup digolongkan menjadi tiga, yaitu berdasarkan analisis biologis, didaktis, dan psikologis.
Karakteristik Perkembangan Anak Taman Kanak-kanak
Perkembangan anak usia Taman Kanak-kanak yang terentang antara usia empat hingga dengan enam tahun merupakan serpihan dari perkembangan insan secara keseluruhan. Perkembangan pada usia ini meliputi perkembangan fisik dan motorik, kognitif, sosial emosional, serta bahasa.
Ketika anak mencapai tahapan usia Taman Kanak-kanak (3 hingga 6 tahun), terdapat ciri yang sangat berbeda dengan usia bayi. Perbedaannya terletak pada penampilan, proporsi tubuh, berat dan panjang badan, serta keterampilan yang mereka miliki.
Dilihat dari tahapan berdasarkan Piaget, anak usia Taman Kanak-kanak berada pada tahapan praoperasional, yaitu tahapan di mana anak belum menguasai operasi mental secara logis. Periode ini ditandai dengan berkembangnya kemampuan memakai sesuatu untuk mewakili sesuatu yang lain dengan memakai simbol-simbol. Melalui kemampuan tersebut anak bisa berimajinasi atau berfantasi wacana banyak sekali hal.
Perkembangan emosi bekerjasama dengan seluruh aspek perkembangan anak. Pada tahap ini emosi anak usia prasekolah lebih rinci atau terdiferensiasi, anak cenderung mengekspresikan emosi dengan bebas dan terbuka. Sikap murka sering mereka perlihatkan dan sering berebut perhatian guru.
Perkembangan sosial ialah perkembangan sikap anak dalam beradaptasi dengan aturan-aturan masyarakat dimana anak itu berada. Perkembangan sosial anak merupakan hasil belajar, bukan hanya sekedar hasil dari kematangan. Perkembangan sosial diperoleh anak melalui kematangan dan kesempatan mencar ilmu dari banyak sekali respons terhadap dirinya. Bagi anak prasekolah, kegiatan bermain mengakibatkan fungsi sosial anak semakin berkembang.
Anak prasekolah biasanya telah bisa membuatkan keterampilan bicara melalui percakapan yang sanggup memikat orang lain. Mereka sanggup memakai bahasa dengan banyak sekali cara menyerupai bertanya, berdialog, dan menyanyi. Sejak usia dua tahun anak sangat berminat untuk menyebut nama benda. Minat tersebut terus berlangsung sehingga sanggup menambah perbendaharaan kata.
Prinsip-prinsip Perkembangan Anak
Penyelenggaraan pendidikan Taman Kanak-kanak menuntut pendidik yang mempunyai kemampuan profesional, sosial dan pribadi yang baik. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh pendidik atau guru Taman Kanak-kanak ialah memahami perkembangan anak. Pemahaman wacana karakteristik perkembangan anak menunjukkan bantuan terhadap pendidik untuk merancang kegiatan, menata lingkungan belajar, mengimplementasikan pembelajaran serta mengevaluasi perkembangan dan mencar ilmu anak.
Prinsip-prinsip perkembangan anak meliputi: (1) anak berkembang secara holistik, (2) perkembangan terjadi dalam urutan yang teratur, (3) perkembangan anak berlangsung pada tingkat yang bermacam-macam di dalam dan di antara anak, (4) perkembangan gres didasarkan pada perkembangan sebelumnya, (5) perkembangan mempunyai imbas yang bersifat kumulatif.
Prinsip-prinsip perkembangan anak tersebut menunjukkan implikasi bagi pendidik dalam menentukan tujuan, menentukan materi ajar, menentukan strategi, menentukan dan memakai media, serta mengevaluasi perkembangan dan mendukung mencar ilmu anak secara optimal.
Dasar Pemikiran dan Pengertian Pembelajaran yang Berorientasi Perkembangan. Ada beberapa hal yang mendasari munculnya praktik pembelajaran yang berorientasi perkembangan, antara lain meningkatnya praktik pembelajaran yang bersifat formal di lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini, kuatnya tuntutan dan tekanan orang renta dan masyarakat terhadap pengajaran yang lebih bersifat akademik, kesalahpahaman masyarakat wacana konsep pendidikan anak usia dini. Pembelajaran yang berorientasi perkembangan mengacu pada tiga hal penting, yaitu (1) berorientasi pada usia, (2) berorientasi pada anak secara individual, dan (3) berorientasi pada konteks sosial budaya anak.
Praktek pembelajaran yang berorientasi perkembangan menekankan pada hal-hal sebagai berikut:
anak secara holistik
program pendidikan yang bersifat individual,
pentingnya kegiatan yang diprakarsai anak,
leksibel, lingkungan kelas menstimulasi anak,
pentingnya bermain sebagai wahana belajar,
kurikulum terpadu,
belajar melalui bekerja,
memberikan pilihan kepada anak wacana apa dan bagaimana caranya belajar,
penilaian bersifat kontinu, dan
bermitra dengan orang renta untuk mendukung perkembangan dan mencar ilmu anak.
Pembelajaran yang Berorientasi Perkembangan Untuk Anak Usia Taman Kanak-kanak Prinisp-prinsip pembelajaran yang berorientasi perkembangan sanggup diidentifikasi dari beberapa dimensi, sebagai berikut.
Menciptakan iklim yang positif dan aman untuk belajar.
Membantu keeratan kelompok dan memenuhi kebutuhan individu.
Lingkungan dan aktivitas hendaknya memberi kesempatan kepada anak untuk berpartisipasi aktif, mengambil inisiatif, melaksanakan eksplorasi terhadap objek dan lingkungannya.
Pengalaman mencar ilmu hendaknya dirancang secara nyata dan memberi kesempatan kepada anak untuk menentukan kegiatannya sendiri.
Mendorong bawah umur untuk membuatkan keterampilan berkomunikasi dan berbahasa secara menyeluruh yang meliputi kemampuan berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis dini.
Strategi pembelajaran dirancang biar anak sanggup berinteraksi dengan anak lainnya secara individual dan dalam kelompok kecil.
Motivasi dan bimbingan diberikan biar anak mengenal lingkungannya, membuatkan keterampilan sosial, pengendalian dan disiplin diri.
Kurikulum diorganisasikan secara terpadu untuk membuatkan seluruh aspek perkembangan anak yang meliputi aspek fisik motorik, sosial emosi, kognitif, bahasa, dan seni.
Penilaian terhadap anak dilakukan secara kontinu, melalui observasi.
Mencatat dan mendokumentasikan hal-hal yang telah dilakukan anak dan cara melaksanakan kegiatan tersebut.
Perkembangan sosial-emosional berdasarkan para ahli, bertujuan untuk mengetahui diri sendiri dan bekerjasama dengan orang lain yaitu sahabat sebaya dan orang dewasa, bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun orang lain, dan berperilaku sesuai dengan sikap prososial. Perkembangan sosial, sebagaimana dikatakan Muhibbin (1999:35), merupakan proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya.
Adapun Hurlock menyampaikan bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Untuk menjadi individu yang bisa bermasyarakat dibutuhkan tiga proses sosialisasi. Ketiga proses tersebut nampak terpisah, tetapi bahu-membahu saling berhubungan:
belajar untuk bertingkah laris dengan cara yang sanggup diterima masyarakat
belajar memainkan tugas sosial yang ada di masyarakat
mengembangkan sikap atau tingkah laris sosial terhadap individu lain dan kegiatan sosial yang ada di masyarakat (Hurlock:250).
Fase-fase perkembangan sosial emosional anak usia dini
1. Fase Pembentukan Dasar Kepercayaan vs Tidak Percaya (0-12-18 Bulan)
Dalam fase ini anak mengalami krisis pertama dalam kehidupannya.Krisis ini menyangkut krisis kepercayaan terhadap lingkungan. Perawatan yang diberikan pada bayi merupakan prasyarat untuk timbulnya percaya dalam diri bayi tewrhadap lingkungannya.
Untuk membangun dasar kepercayaan tersebut maka pemenuhan kebutuhan bayi perlu dilakukan secara teratur. Misalnya : kebutuhab terhadap makanan, kebersihan (mandi, ganti, dan sebagainya. Di samping itu dibutuhkan juga cara-cara penanganan dalam merawat bayi. Perawatan ini haruslah menjadikan rasa aman dan rasa terlindungi pada bayi. Hal tersebut merupakan faktor penentu untuk timbulnya rasa percaya dalam diri bayi. Apabila bayi tidak memperoleh perawatan yang demikian maka yang tumbuh dalam diri bayi yakni rasa tidak percaya atau curiga.
2. Fase Autonomi vs Malu dan ragu-ragu (18 bulan -3 tahun)
Bermodalkan rasa percaya dan sejalan dengan perkembangan baik fisik, kognitif dan bahasa, anak mulai mengeksplorasi lingkungannya. Ia bergerak kesana-kemari. Pada masa ini anak mencicipi kebebasannya. Seiring dengan hal itu berkembang pula krisis tahap ke dua dalam diri anak. Rasa aib ini merupakan awal dari kepekaan anak terhadap sesuatu yang salah dan yang benar. Oleh alasannya yakni itu tugas orang bau tanah sangat penting dalam mengarahkan perkembangan psikososial anak berkembang dengan baik.
Kontrol yang terlalu ketat menimbulkan autonomi anak tidak berkembang. Sebaliknya kontrol yang terlalu longgar menimbulkan autonomi anak kurang peka terhadap mana yang salah dan mana yang benar.
3. Fase inisiatif vs Merasa Bersalah (3-6 tahun)
Pada tahap ini krisis yang terjadi dalam diri anak yakni antara inisiatif dan melaksanakan inisiatif tersebut, dan rasa bersalah untuk melaksanakan apa yang ingin dilakukan oleh anak. Oleh alasannya yakni itu anak perlu berguru mengendalikan perasaan ini. Salah satu cara yang sanggup dilakukan yakni dengan jalan menanamkan rasa tanggung jawab dalam diri anak. Di samping itu anak masih perlu mencicipi kebebasannya. Apabila perkembangan rasa besalah melebihi perkembangan inisiatif anak maka anak akan menjadi anak yang tidak sanggup mengespresikan keperibadiannya lantaran takut diangap salah. Anakakan diliputi rasa ragu-ragu.
Bertitik tolak dari pendapat para hebat tersebut di atas maka sanggup diketahui bahwa perkembangan psikososial merupakan suatu bentuk perkembangan yang bersifat kumulatif. Hal ini berarti bahwa perkembangan psikososial pada tahap awal akan mensugesti perkembangan psikososial pada tahap selanjutnya. Oleh alasannya yakni itu apabila terjadi kendala dalam perkembangan dalam perkebangan psikososial pada tahap awal maka keadaan ini akan mensugesti perkembangan psikososial pada tahap selanjutnya.
Perkembangan sosialisasi pada anak ditandai dengan kemampuan anak untuk mengikuti keadaan dengan lingkungan, menjalin pertemanan yang melibatkan emosi, pikiran, dan perilakunya. Perkembangan sosialisasi anak yakni proses dimana anak mengembangkan keterampilan interpersonalnya, berguru menjalin persahabatan, meningkatkan pemahamannya perihal orang di luar dirinya, dan juga berguru kebijaksanaan sehat susila dan perilaku.
Perkembangan sosial emosional melibatkan pemahaman yang mendalam perihal diri sendiri dan orang lain. Feeney (et.al) menyatakan bahwa perkembangan sosial emosional mencakup; kompetensi sosial (kemampuan dalam menjalin kekerabatan dalam kelompok sosial), kemampuan sosial (perilaku yang dipakai dalam situasi sosial), kognisi sosial (pemahaman terhadap pemahaman, tujuan, dan sikap diri sendiri dan orang lain), sikap sosial (kesediaan untuk berbagi, membantu, bekerjasama, merasa nyaman dan aman, dan mendukung orang lain), serta penguasaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas (perkembangan dalam menentukan standar baik dan buruk, kemampuan untuk mempertimbangkan kebutuhan dan keselamatan orang lain).
Sosialisasi yakni suatu proses mental dan tingkah laris yang mendorong seseorang untuk menyesuaikan diri dengan keinginan yang berasal dari dalam diri. Sosialisasi merupakan proses dimana anak berguru untuk berperilaku sesuai dengan keinginan budaya dimana anak dibesarkan. Sebagaimana Manning menyatakan "socialization is the process by which children learn to be have in acceptable manner, as defined by culture of which the family is apart". Sementara itu Drever mengemukakan pengertian sosialisasi sebagai suatu proses dimana individu mengikuti keadaan dengan lingkungan sosial dan menjadi dikenali, dan bekerjasama dengan anggota kelompok tersebut.
Ada beberapa faktor yang mensugesti kemampuan anak dalam bersosialisasi, yaitu: (1) lingkungan keluarga, (2) lingkungan sekolah, (3) lingkungan kelompok masyarakat, (4) faktor dari dalam diri anak.
Proses sosialisasi membutuhkan 3 (tiga) keterampilan khusus, yiatu: (1) proses imitasi, (2) proses identifikasi, dan (3) proses internalisasi. Proses imitasi yakni proses dimana anak berguru menggandakan sikap yang sanggup ditterima secara sosial. Anak melhat secara eksklusif sikap orang lain yang dijadikan contoh/model. Proses identifikasi yakni terjadinya efek sosial pada anak, dimana anak ingin menjadi menyerupai orang lain yang dicontoh. Proses internalisasi yakni proses penanaman serta perembesan nilai-nilai. Dalam proses ini dibutuhkan pemahaman anak untuk membedakan nilai-nilai sosial yang baik dan buruk. Proses sosialisai juga diawali dengan adanya proses pengamatan terhadap sikap orang lain.
Bandura mengemukakan tahapan atau fase yang dilalui individu dalam mengamati sikap tertentu, yaitu; (1) memperhatikan (attention), (2) menyimpan (retention), (3) mereproduksi (reproduction), dan (4) motivasi (motivation).
Menurut Erikson, masa kanak-kanak merupakan citra awal individu sebagai seorang manusia, dimana prola sikap dan sikap yang diperoleh anak, akan menjadi peletak dasar bagi perkembangan anak selanjutnya. Pada anak usia 4-5 tahun sangat bahagia menggandakan pembicaraan maupun tindakan orang lain. Menurutnya, tahapan perkembangan psikososial pada anak pra sekolah yakni tahapan inisiatif atau prakarsa versus rasa bersalah. Pada tahap ini anak terlihat aktif dan mulai bermain serta menjalin komunikasi dengan belum dewasa lain. Anak mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan memperlihatkan perhatian terhadap perbedaan jenis kelamin.
Ciri-ciri perkembangan sosial berdasarkan Steinberg (1995), Hughes (1995) dan Piaget (1996) adalah: (1) menentukan sahabat yang sejenis, (2) cenderung lebih percaya pada sahabat sebaya, (3) agresivitas lebih meningkat, (4) bahagia bergabung dalam kelompok, (5) memahami keberadaan bersama kelompok, (6) berpartisipasi dengan pekerjaan orang dewasa, (7) berguru membina persahabatan dengan orang lain, dan (8) memperlihatkan rasa setia kawan.
Dalam kaitannya dengan perkembangan emosi pada anak usia dini, terdapat 3 (tiga) pola dasar emosi yang timbul pada anak, yaitu takut, marah, dan cinta (fear, anger, and love). Emosi sanggup berubah bukan hanya disebabkan lantaran adanya perubahan perasaan, tetapi juga lantaran kondisi lingkungan yang dialami anak. Rasa takut sanggup timbul lantaran adanya peristiwa yang mendadak atau tidak terduga, dimana anak perlu menyesuaikan diri dengan situasi tersebut. Rasa murka biasa muncul pada belum dewasa untuk menarik perhatian orang lain. Rasa bahagia merupakan bentuk emosi yang memperlihatkan kegembiraan atau keriangan yang sanggup disertai dengan ekspresi tawa, senyum sebagai tanda relaksasi tubuh.
Karakteristik perkembangan emosi pada anak usia dini
Emosi anak berlangsung singkat
Emosi anak bersifat intense
Emosi anak bersifat temporer
Emosi anak muncul cukup sering
Respon emosi anak bermacam-macam
Emosi anak sanggup dideteksi dengan melihat tanda-tanda perilakunya
Kekuatan emosi anak sanggup berubah
Ekspresi emosi anak sanggup berubah
Menurut Piaget, anak berada pada tahap perkembangan kognitif pra-operasional (2-7 tahun) ditendai dengan egosentrisme yang kuat, gagasan imajinatif, bertindak berdasarkan pemikiran intuitif atau tidak berdasarkan pemikiran yang rasional. Menurut Kroh, bahwa emosi anak usia 4-5 tahun berada pada masa kegoncangan atau biasa disebut sebagai trotz period. Pada masa ini muncul tanda-tanda kenakalan yang umum terjadi pada anak, menyerupai menentang pada orang tua, memakai kata-kata kasar, dengan sengaja melanggar hal yang tidak boleh dan sebagainya.
Karakteristik perkembangan emosi anak usia 5-6 tahun
Memiliki keinginan untuk menyenangkan hati teman
Sudah lebih bisa mengikuti aturan
Sudah lebih berdikari di satu sisi, namun juga memperlihatkan ketergantungan di sisi lain
Sudah lebih bisa membaca situasi
Mulai bisa menahan tangis dan kekecewaan
Mulai sabar menunggu giliran
Menunjukkan kasih sayang terhadap saudara maupun teman
Menaruh minat pada kegiatan orang dewasa
Faktor-faktor yang mensugesti perkembangan emosi anak
Kematangan
Belajar: penyesuaian dan contoh
Inteligensi
Jenis kelamin
Status ekonomi
Kondisi fisik
Posisi anak dalam keluarga
Untuk mengembangkan kemampuan sosial dan emosi pada anak, maka pendidik mempunyai tugas yang sangat penting. Di antara tugas pendidik tersebut adalah:
a. Memberikan aneka macam stimulasi pada anak
Pendidik perlu memperlihatkan stimulasi edukatif pada anak supaya kemampuan sosial emosi anak berkembang sesuai tahapan usianya. Kegiatan berguru melalui permainan sanggup dioptimalkan dengan cara menstimulasi anak misalnya; mengajak anak terlibat dalam permainan kelompok kecil, melatih anak bermain bergiliran, mengajak anak menceritakan pengalamannya di depan kelas, melatih kesadaran anak untuk menyebarkan dalam kegiatan kemanusiaan bila terjadi bencana, dan sebagainya.
b. Menciptakan lingkungan yang kondusif
Pendidik perlu mengelola kelas yang memungkinkan anak mengembangkan kemampuan sosial emosinya terutama kesadaran anak untuk bertanggungjawab terhadap benda dan tidakan yang dilakukannya. Lingkungan ini berupa fisik dan psikis. Lingkungan fisik menekankan pada ruang kelas sebagai daerah anak berlatih kecakapan sosial emosinya. Sedangkan lingkungan psikis lebih ditekankan pada suasana lingkungan penuh cinta kasih sehingga merasa nyaman dan aman di kelas.
c. Memberikan contoh
Pendidik yakni pola konkrit bagi anak. Segala tindakan dan tutur kata pendidik anak diikuti oleh anak. Oleh lantaran itu pendidik seharusnya sanggup menjaga sikap sesuai dengan norma sosial dan nilai agama, menyerupai menghargai pendapat anak, bersedia menyimak keluh kesah anak, membangun sikap positif anak, berempati terhadap problem yang dihadapi anak, dan sebagainya.
d. Memberikan kebanggaan atas perjuangan yang dilakukan anak
Pendidik sebaiknya tidak sungkan memperlihatkan kebanggaan terhadap kecakapan sosial yang sudah dilakukan oleh anak secara proporsional. Pujian sanggup diberikan secara mulut maupun non lisan. Misalnya dengan kata-kata yang menyenangkan, atau dengan senyuman, pelukan, dan sumbangan tanda-tanda terentu yang bermakna untuk anak.
Dalam proses pembelajaran, aneka macam acara sanggup dikembangkan oleh pendidik supaya sanggup meningkatkan sosialisasi dan emosi anak. Di antara acara yang sanggup dikembangkan adalah:
Memberikan pilihan pada anak
Memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan kreativitasnya
Memberikan kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi lingkungan
Mendorong anak untuk bekerja secara mandiri
Menghargai ide/gagasan anak
Membimbing anak untuk melaksanakan pemecahan masalah
Hai sahabat guru yang budiman. Kita tahu bahwa dalam sebuah forum pendidikan tak lepas dari yang namanya penilaian, termasuk juga pendidikan anak usia dini (paud). Hanya saja pada pendidikan anak usia dini menyerupai RA dan Taman Kanak-kanak cara dan teknis pembelajaran sangat berbeda dengan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi, alasannya ialah umur penerima didik berkisar antara 3-6 tahun saja.
Dalam hal ini mendikbud / kemenag mengeluarkan regulasi / juknis yang berkaitan dengan evaluasi supaya pembelajaran pada anak usia dini sesuai dengan abjad anak untuk umur 3-6 tahun. Dan metode / model pembelajaran yang paling terkenal ialah "belajar sambil bermain, bermain seraya belajar". Karena bermain memang dunia anak, mereka tidak dapat di atur harus begini begitu. Namun kita sebagai orang bau tanah / pendidik harus dapat memahami abjad masing-masing anak.
Karena itulah disini kami akan menyimpulkan beberapa artikel / postingn yang telah kemudian wacana banyak sekali macam format dan pedoman yang terkait dengan evaluasi pendidikan pada anak usia dini yang dapat anda download pada link dibawah ini sesuai dengan judulnya masing-masing:
Panduan Penilaian Kurikulum 2013 Terlengkap dan Terbaru cek disini Contoh Format Penilaian Hasil Karya Anak Kurikulum 2013 cek disini Contoh Format Catatan Harian Dalam Penilaian Kurikulum 2013 cek disini Contoh Format Catatan Penilaian Anekdot Kurikulum 2013 cek disini Pedoman Penilaian dan Pelaporan Perkembangan Anak K13 cek disini Contoh Format Penilaian Mingguan dan Bulanan Kurikulum 2013 cek disini Buku Panduan Penilaian Pembelajaran K-13 Terbaru cek disini Format Laporan Pencapaian Perkembangan Anak Kurikulum 2013 cek disini Pendekatan Pembelajaran dan Penilaian Pada cek disini Prinsip Prinsip Penilaian Pembelajaran Anak cek disini Cara Dan Teknik Penilaian Pembelajaran Anak cek disini Tahap Perkembangan Moral Anak Usia Dini Menurut Para Ahli cek disini Karakter dan Faktor Perkembangan Sosial Emosional Pada Anak Usia Dini cek disini Tahapan Perkembangan Kognitif Anak usia Dini Menurut Para Ahli cek disini Contoh Panduan / Pedoman Penilaian Kurikulum 2013 cek disini Contoh Format Penilaian Harian dan Bulanan Kurikulum 2013 cek disini
Demikian dari kami wacana kumpulan format evaluasi pendidikan anak usia dini, semoga dapat memperlihatkan manfaat untuk kita semua utamanya pendidikan belum dewasa Indonesia. Amin ...
Perkembangan bahasa dalam diri anak sudah dimulai semenjak sebelum lahir. Jauh sebelum kata-kata digunakan, bayi dan bawah umur berkomunikasi melalui ekspresi muka, gerakan tubuh, dan tangisan. Apabila anak berhasil berkomunikasi, yang ditampilkan melalui aneka macam ragam instruksi wajah, gerak dan sikap dengan orang tuanya atau pengasuhnya, makasaat itu bawah umur mulai mengenal kekuatan bahasa sebagai penyebab terjadinya sesuatu.
Keterampilan berbahasa sangat dekat kaitannya dengan perkembangan kognitif dan kompetensi sosial anak. Menurut Howard, Shaughnessy (et.all) dalam Jalongo (2007) dijelaskan bahwa anak yang sedang berguru berbicara dan berinteraksi dengan baik dengan orang lain cenderung lebih berkembang dalam kemampuan keaksaraan dan berguru bermacam-macam pengalaman. Menurut Neuman (2000), beberapa prinsip yang perlu dipertimbangan oleh guru dan orang sampaumur dalam pengembangan bahasa anak antara lain:
Berbicaralah (dua arah - ada interaksi timbal balik) dengan anak, libatkan anak dalam percakapan sehari-hari.
Bacakan dan ulangi bacaan kisah dengan teks yang sanggup diprediksi oleh anak.
Semangati anak untuk menceritakan pengalaman dan mendeskripsikan inspirasi dan kejadian yang penting bagi mereka.
Kunjungi perpustakaan secara teratur.
Sediakan kesempatan bagi anak untuk menggambar dan mencetak, memakai alat tulis.
Tahapan Perkembangan Menulis Anak Usia Dini
Scribble stage (tahap mencoret atau menciptakan goresan): Anak mulai berguru bahasa tulisan. Biasanya dilakukan di dinding, kertas atau apa saja yang dianggapnya bisa ditulis.
Linear repetitive stage (Tahap pengulangan secara linear): Pada tahap ini, anak menelusuri bentuk goresan pena yang horizontal.Tulisan yang dihasilkan anak menyerupai menciptakan gambar rumput. Biasanya anak akan ingat kata apa saja yang ditulis walaupun bentuk tulisannya menyerupai rumput.
Random letter stage (Tahap menulis secara random): Pada tahap ini, anak berguru perihal aneka macam macam bentuk yang sanggup diterima sebagai suatu goresan pena walaupun huruf yang muncul masih acak.Pada tahap ini orangtua dan guru sanggup memberi acara menceritakan gambar yang dibentuk oleh anak.Kegiatan ini membantu anak untuk menuangkan inspirasi pada gambar menjadi goresan pena walaupun kata yang muncul tidak utuh (hurufnya acak).
Letter name writing or phonetic writing stage (tahap menulis goresan pena nama): Pada tahap ini, anak mulai menyusun korelasi antara goresan pena dan bunyi. Permulaan gambar ini sering digambarkan sebagai menulis goresan pena nama alasannya yakni bawah umur menulis goresan pena nama dan suara secara bersamaan. Sebagai contoh, anak menulis kata "dua" dengan "duwa", "pergi" dengan "pegi", dan lain sebagainya.
Tahapan Perkembangan Membaca Anak Usia Dini
Magical stage (Tahap fantasi); Anak mulai berguru memakai buku, mulai berpikir bahwa buku itu penting, melihat atau membolak-balikkan buku dan kadang kala anak membawa buku kesukaannya.
Self Concept Stage (Tahap Pembukaan Konsep Diri Membaca); Anak memandang dirinya sebagai pembaca, dan mulai melibatkan diri dalam acara membaca, akal-akalan membaca buku, memberi makna pada gambar atau pengalaman sebelumnya dengan buku, memakai bahasa buku meskipun tidak cocok dengan tulisan.
Bridging Reading Stage (Tahap Membaca gambar); Pada tahap ini anak menjadi sadar pada cetakan yang tampak serta sanggup menemukan kata yang sudah dikenal, sanggup mengungkapkan kata-kata yang mempunyai makna dengan dirinya, sanggup mengulang kembali kisah yang tertulis, sanggup mengenal cetakan kata dari puisi atau lagu yang dikenalnya serta sudah mengenal abjad.
Take Off Reading Stage (Tahap Pengenalan Bacaan); Anak tertrik pada bacaan, mulai mengingat kembali cetakan pada konteksnya, berusaha mengenal gejala pada lingkungan serta membaca aneka macam tanda menyerupai kotak susu, pasta gigi atau papan iklan.
Independent Reader Stages (Tahap Membaca lancar); Pada tahap ini, anak sanggup membaca aneka macam jenis buku yang berbeda secara bebas, menyusun pengertian dari tanda, pengalaman dan instruksi yang dikenalnya serta sanggup menciptakan asumsi bahan-bahan bacaan.
Visi Misi dan Pengembangan Kurikulum RA. Masa usia dini merupakan usia emas pertumbuhan dan perkembangan (golden age) alasannya yaitu perkembangan banyak sekali aspek psiko-fisik yang terjadi pada masa ini akan menjadi peletak dasar sangat fuindamental. Artinya, perkembangan aspek psiko-fisik pada masa usia dini akan menjadi dasar peletak bagi perkembangan selanjutnya. Pada masa ini perkembangan otak anak mengalami peningkatan yang sangat pesat, oleh alasannya yaitu itu pendidikan anak usia dini merupakan dasar bagi perkembangan masa berikutnya, serta merupakan tahap pembinaan awal menuju terbinanya kualitas sumber daya insan Indonesia yang mempunyai daya saing tinggi di kurun globalisasi ini.
Pertumbuhan dan perkembangan anak akan tercapai secara optimal, apabila diciptakan situasi dan kondisi yang aman sesuai dengan kebutuhan anak yang berbeda satu dengan lainnya, sehingga layanan pendidikan yang diberikan harus memperhatikan keberagaman budaya, agama, kondisi alam dan pola kehidupan sehari-hari anak. Selain itu, sangat perlu diperhatikan kodrat anak sebagai makhluk individu, sosial, susila dan religius. Oleh lantaran itu pengembangan anak usia dini berorientasi pada pendekatan berpusat pada anak (student centered).
Pendidikan di Raudlatul Athfal bertujuan untuk menyebarkan sikap, pengetahuan, ketrampilan, daya cipta dan hati nurani anak didik dalam merespon dan mengikuti keadaan dengan lingkungannya menurut pemikiran dan nilai-nilai Islam. Untuk itu pelayanan pendidikan di Raudlatul Athfal harus sesuai dengan karakteristik dan tahapan perkembangan anak pra sekolah dengan berlandaskan pemikiran nilai-nilai Islam.
Kurikulum yaitu seperangkat planning dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan materi pelajaran serta cara yang dipakai sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum merupakan alat untuk membantu dan menunjukkan pola bagi pendidikan tertentu. Kurikulum merupakan alat untuk membantu dan menunjukkan pola bagi pendidik dalam melaksanakan tugasnya.
Hal ini lantaran kurikulum secara umum didefinisikan Raudlatul Athfal mengacu pada pemikiran dan nilai-nilai Islam serta filosofi pendidikan anak sebagai landasan berpikir dalam penetapan tujuan, pemilihan materi untuk anak, kegiatan dan suasana berlajar di dalam dan di luar kelas, seni administrasi pembelajaran, pengelolaan kelas, media, sarana da prasarana, penilaian dan assesmen serta kerjasama antara pengelolaan kelas, media, sarana prasarana, penilaian dan assesmen serta kerjasama antara para guru, orang renta dan masyarakat sekitar sekolah.
Kurikulum disusun biar memungkinkan pengembangan keagamaan multipotensi, minat, multi kecerdasan (kecerdasan majemuk), emosional, spiritual dan kinestetik atau fisik-motorik anak didik secara optimal sesuai dengan keunikan dan tahap perkembangan setiap anak. Pengembangan kurikulum merupakan salah satu bab penting dalam proses pendidikan. Pengambanagn kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan yaitu untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Sejalan dengan Undang-undang No.20 tahun 2003 pasal 14 bahwa pendidikan anak usia dini yaitu suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak semenjak lahir hingga dengan usia 6 tahun yang dilakukan mulai rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani biar anak mempunyai kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Berdasarkan undang-undang tersebut, maka pendidikan anak usia dini merupakan masa penting, lantaran awal kehidupan anak merupakan masa yang paling tepat dalam menunjukkan dorongan atau upaya pengembangan biar anak sanggup berkembang secara optimal. Apa yang dialami anak pada masa awal pertumbuhan dan perkembangannya akan berdampak pada kehidupannya di masa yang akan datang.
Oleh lantaran itu pada masa-masa usia dini perlu dilakukan upaya pendidikan yang meliputi upaya stimulasi, bimbingan, pengasuhan, pendampingan dan donasi kegiatan pembelajaran untuk menyebarkan banyak sekali potensi yang dilakukan anak melalui pengembangan kurikulum.
Kurikulum Raudlatul Athfal ini merupakan pembagian terstruktur mengenai dari idelalisme, cita-cita, tuntutan stakeholders, atau kebutuhan-kebutuhan tertentu. Melalui kurikulum ini akan diketahui arah pendidikan, alternatif pendidikan, fungsi pendidikan serta hasil pendiidkan yang hendak dicapai oleh Raudlatul Athfal. Kurikulum ini harus dijadikan pedoman bagi pengelola dan guru RA untuk selanjutnya disempurnakan secara terus-menerus melalui tahapan pengkajian, sosialisasi, advokasi, perintisan oleh tim pengembang kurikulum yang terdiri dari unsur kepala Raudlatul Athfal, guru/ praktisi, komite Raudlatul Athfal, penyelenggara pendidikan, Mapenda Departemen Agama kota/kabupaten dan nara sumber.
Dengan demikian, kurikulum ini bisa mengikuti keadaan dengan perkembangan ipteks dan budaya, serta perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia dengan tanpa melepaskan diri dari pemikiran dan nilai-nilai Islam.
Menghadapi kondisi tersebut Raudlatul Athfal perlu mempersiapkan diri secara mantap dengan menciptakan Rencana Kerja Raudhatul Athfal (RKRA) untuk memenuhi tuntutan perkembangan kurikulum Raudlotul Athfal yang sesuai dengan kondisi, potensi dan karakteristik Raudlatul Athfal dengan model KTSP yang mengacu pada standar pencapaian perkembangan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) tahun 2004.
Kurikulum Raudlatul Athfal dikembangkan dengan menyesuaikan kondisi, potensi dan karakteristik masyarakat religius dengan lebih banyak didominasi agraris (petani), wiraswasta serta kondisi masyarakat desa Kudar dan aspirasinya terhadap dunia pendidikan anak usia dini (PAUD) cukup bagus. Pola pendidikan yang dikembangkan di Raudlatul Athfal. Keberhasilan pendidikan di Raudlatul Athfal kepercayaan masyarakat terhadap Raudlatul Athfal.
Raudlatul Athfal telah melaksanakan “kurikulum 2004” namun tahun 2006 diharapkan melaksanakan KTSP. Oleh lantaran itu pada tahun 2015 Tim Pengembang Kurikulum IGRA bersama kepala RA, Guru, yayasan/komite Kementrian Agama Kabupaten Pamekasan berkejasama dengan tim jago dari LKP2-I telah menyusun dan menyebarkan kurikulumnya sendiri dengan mengacu pada UU No.23 tahun 2002 perihal proteksi anak, Undang-undang No.20 tahun 2003 perihal Sistem Pendidikan Nasional, PP No.19 tahun 2005 perihal Standar Nasional Pendidikan, Pemendiknas no 58 tahun 2009 perihal Standar Pendidikan Anaka Usia Dini serta berpedoman pada Panduan Penyusunan Kurikulum Satuan Pendidikan yang dikeluarkan oleh BSSP serta pedoman penyusunan dan implementasi KTSP RA yang dikeluarkan oleh Kanwil Departemen Agama Jawa Timur. Kurikulum Raudlatul Athfal ini akan diimplemtasikan pada tahun 2009.
Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di Raudlatul Athfal dinyatakan tercapai apabila kegiatan mencar ilmu bisa mencapai perkembangan penerima didik secara optimal proses pembelajaran akan efektif apabila dilakukan melalui persiapan yang cukup dan terencana dengan baik biar sanggup diterima untuk; (1) memenuhi kebutuhan masyarakat setempat dan masyarakat global; (2) mempersiapkan penerima didik dalam menghadapi perkembangan dunia global; dan (3) melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan/atau menyebarkan ketrampilan untuk hidup mandiri.
Untuk menjamin keberhasilan implemntasi kurikulum RA tersebut, dibutuhkan banyak sekali persyaratan, antara lain:
Dukungan semua pemangku kepentingan pendidikan (Stakeholders);
Sosialisasi, pelatihan, diskusi dan lokakarya KTSP;
Pemenuhan dokumen yang dibutuhkan untuk penyusunan KTSP;
Pengembangan sumberdaya insan secara berkelanjutan;
Koordinasi dan pengelolaan yang profesional;
Perluasan kerjsama yang baik dengan banyak sekali pihak;
Semua pihak perlu: (a) memahami KTSP; (b) mempunyai dokumen pendukung;(c) mempunyai kesepakatan untuk berkembang dan maju secara bersama-sama; serta (d) bisa dan mau melaksanakannnya secara baik.
Kurikulum ini harus dijadikan prdoman bagi pengelola dan guru Raudlatul Athfal untuk seanjutnya disempurnakan secara terus-menerus. Dengan demikian, Kurikulum Raudlatul Athfal akan bisa mengikuti keadaan dengan perkembangan ipteks dan berbudaya, serta perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia dengan tanpa melepaskan diri dari pemikiran dan nilai-nilai Islam.
A. Visi, Misi dan Tujuan RA
1. Visi Raudlatul Athfal Mencetak generasi mandiri, kreatif, inovatif, beriman mantap, berwawasan luas dan berakhlak karimah serta unggul dalam prestasi.
Terbiasa melaksanakan kegiatan sendiri dan mempunyai rasa percaya diri
Mampu berkreasi dan selalu mengadakan perubahan ke arah perbaikan atas kreatifitasnya.
Teguh keyakinan terhadap Sang Maha Pencipta dan terbiasa mendirikan sholat lima waktu
Memiliki wawasan luas dari pengalaman belajar
Terbiasa berperilaku baik, benar dan sopan
Terbiasa berkomunikasi dengan bahasa yang santun
Mampu baca tulis arab dan latin serta berhitung
Mampu dalam menghafal surat-surat pendek dan doa-doa sehari-hari
2. Misi Raudlatul Athfal
Membiasakan anak melaksanakan kegiatan sendiri
Memberikan materi yang sesuai dengan pemikiran agama Islam
Menyelenggarakan rutinitas kegiatan yang sanggup melatih kreatifitas anak
Melatih baca tulis Al-Qur’an dan baca tulis latin serta berhitung
Melatih Pembiasaan sikap mental yang disiplin, sopan dan menghormati orang lain.
B. Tujuan Raudlatul Athfal
1. Tujuan Umum Raudlatul Athfal Tujuan umum dirumuskan dengan mengacu kepada tujuan umum pendidikan RA, yaitu:
Membangun landasan bagi berkembangnya potensi penerima didik biar menjadi insan beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri dan menjadi warga yang demokratis dan bertanggungjawab.
Mengembangkan potensi kecerdasan spiritual, intelektual, emosional dan sosial penerima didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan.
Membantu anak didik menyebarkan banyak sekali potensi baik piskis maupun fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik motorik, kemandirian dan seni untuk memasuki pendidikam dasar.
2. Tujuan Khusus Tujuan khusus dirumuskan sesuai dengan tujuan Raudlatul Athfal itu sendiri
Mewujudkan sikap anak yang mandiri, kreatif, inovatif sesuai dengan pemikiran agama Islam.
Menyediakan alat peraga edukatif yang menarik dan memadai
Meningkatnya prestasi dan bisa bersaing di Tingkat Nasional
Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana/prasarana serta pemberdayaan-nya yang mendukung peningkatan prestasi siswa
Terwujudnya ruang bermain yang lebih luas
Tersedianya ruang guru yang bisa menampung semua guru
Terwujudnya aula masrasah yang representatif
C. Tujuan Pengembangan KTSP
Tujuan penyusunan KTSP ini untuk dijadikan pola bagi Satuan Pendidikan Raudlatul Athfal dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum yang akan dilaksanakan yaitu Pendidikan yang mengarah kepada Tujuan Satuan Pendidikan itu sendiri.
D. Prinsip - prinsip Pengembangan KTSP
KTSP dikembangkan sesuai dengan relevansi setiap kelompok atau satuan pendidikan dibawah koordinasi dan supervisi Kantor Kementerian Agama Kab/Kota. Perkembangan KTSP mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kelulusan (SKL), serta berpedoman pada penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP serta memperhatikan pertimbangan Komite Raudlatul Athfal.
1. Berpusat pada potensi, perkembangan, serta kebutuhan penerima didik dan lingkungannya. Pengembangan kurikulum diubahsuaikan dengan potensi penerima didik yang berbeda – beda, oleh lantaran itu proses pembelajarannya dilaksanakan secara individual, kelompok dan klasikal.
Bahan asuh dikemas dengan memakai kedekatan dengan tematik yang sanggup menyebarkan seluruh potensi dan aspek perkembangan anak usia dini menurut kebutuhan penerima didik serta tuntutan dilingkungan Raudhatul Athfal.
2. Beragam dan terpadu Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik penerima didik, kondisi tempat dengan menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, dan etika istiadat serta status sosial ekonomi dan gender . Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lkal dan pengembangan diri yang dilaksanakan dengan memakai pembelajaran yang terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan menyenangkan
3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pngetahuan, tekhnologi dan seni berkembang secara dinamis. Oleh lantaran itu semangat dan isi kurikulum mendorong penerima didik untuk mengenal dan sanggup memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, tekhnologi dan seni.
4. Relevan dengan kebutuhan Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan para pemerhati pendidikan(stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan hidup. Oleh lantaran itu pengembangan kurikulum menurut kecakapan hidup atau life skill,dengan memperhatikan pengembangan integritas pribadi,kemandirian,keterampilan berfikir (thinking skill), kecerdasan spiritual, emosional, sosial, musical, kinestetik,dan natural
5. Menyeluruh dan berkesinambungan Substansi kurikulum meliputi keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan bidang pengembangan yang direncanakan , disajikan secara terpadu dan berkesinambungan
6. Belajar Sepanjang hayat Kurikulum di arahkan pada proses pengembangan , pembudayaan dan penberdayaan penerima didik yang berlangsung sepanjang hayat. Hal ini ditanam kan semenjak dini biar penerima didik bahagia mencar ilmu sepanjang hayat, lantaran kondisi dan tuntunan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan insan seutuhnya
7. Seimbang antara kepentingan global, nasional dan lokal. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kpentingan global, nasional dan local untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan global, nasional dan lokal harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan perkembangan kurun globalisasi dengan tetap berpegang pada motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Republik Indonesia (NKRI)
E. Acuan Operasional Penyusunan KTSP
Operasional penyusunan KTSP Raudlatul Athfal berpedoman pada :
1. Peningkatan Iman dan Taqwa serta etika mulia. Keimanan dan ketaqwaan serta etika mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian penerima didik secara utuh. Kurikulum disusun yang memungkinkan semua bidang pengembangan sanggup menunjang penigkatan dogma dan taqwa serta etika mulia.
2. Peningkatan potensi, kecerdasan dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan penerima didik. Kurikulum disusun biar memungkinkan pengembangan keragaman potensi, minat, kecerdasan intelektual, emosional, spiritual dan kinestetik penerima didik secara optimal sesuai dengan tingkat pengembangan.
3. Keragaman potensi dan karateristik tempat dan lingkungan. Daerah mempunyai keragaman potensi kebutuhan, tantangan dan keragaman karakteristik lingkungan, oleh lantaran itu kurikulum Raudlatul Athfal memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan out put yang sanggup menunjukkan kontribusi bagi pengembangan daerah
4. Tuntutan pengembangan tempat dan nasional. Pengembangan kurikulum Raudlatul Athfal memperhatikan keseimbangan tuntutan pembangunan tempat dan nasional.
5. Tuntutan dunia Kerja. Memuat kecakapan perihal hidup (Life skill) untuk mengenalkan dan membekali penerima didik menghadapi kehidupan dunia kerja yang kompetetif dengan melatih dan membiasakan dengan kemandirian, tidak menggantungkan diri pada orang lain.
6. Perkembangan ilmu pengetahuan, tekhonologi dan seni. Kurikulum dikembangkan secara bersiklus dan berkesinambungan sejalan dengan perkembngan ilmu pengetahuan, tekhnologi dan seni, dengan mengenalkan alat tekhnologi mutakhir kepada penerima didik.
7. Agama Yang menjadi cirri khas kurikulum Raudlatul Athfal yaitu mendalami agama maksudnya pengenalan penerima didik terhadap rukun iman, rukun islam dan berakhlakul karimah lebih mendalam disertai dengan adaptasi dan pengamalan yang diubahsuaikan dengan tahap perkembangan dan kemampuan penerima didik.
8. Dinamika perkembangan global. Kurikulum dikembangkan biar penerima didik bisa bersaing secara global dan sanggup hidup berdampingan dengan bangsa lain.
9. Persatuan nasional dan nilai – nilai kebangsaan Mendorong wawasan dan sikap kebangsaan serta persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
10. Kondisi Sosial budaya masyarakat setempat Pengembangan kurikulum Raudlatul Athfal dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat lingkungannya dan menunjang kelestarian budaya.
11. Kesetaraan gender Kurikulum Raudlatul Athfal diarahkan kepada pendidikan yang berkeadilan dan mendorong tumbuh kembangnya kesetaraan gender.
12. Karakteristik satuan pendidikan Kurikulum dikembangkan sesuai dengan visi, misi, tujuan, kondisi, dan cirri khas satuan pendidikan.
Model pembelajaran pusat merupakan model pembelajaran yang menitikberatkan pusat bermain pada ketika pembelajaran. Sentra bermain merupakan area kegiatan yang dirancang di dalam atau di luar kelas, berisi banyak sekali kegiatan bermain dengan bahan-bahan yang dibutuhkan dan disusun menurut kemampuan anak serta sesuai dengan tema yang dikembangkan dan dirancang terlebih dahulu.
Sentra memungkinkan anak untuk melaksanakan manipulasi terhadap membuatkan obyek, terlibat dalam role playing saling bercakap-cakap dengan teman-temannya, bereksplorasi, berinteraksi secara fisik, emosional, sosial dan secara kognitif serta kegiatan variatif yang menarik lainnya. Sentra menawarkan kesempatan pada anak untuk bermain baik secara individual, kelompok kecil maupun kelompok besar dan bahkan secara klasikal.
Anak diperbolehkan menentukan kegiatan yang menarik baginya dan jadinya akan mengakibatkan anak sebagai pembelajar yang aktif dan interaktif. Kegiatan bermain dilakukan anak dalam kelompok kecil di pusat atau area yang di dalamnya terdapat banyak sekali material bermain. Setiap pusat bermain telah disiapkan oleh guru sesuai dengan jadwal pengembangan yang akan diajarkan kepada anak dengan jadwal yang telah ditentukan. Semua kegiatan bermain diarahkan untuk mencapai sasaran yang diubahsuaikan dengan kemampuan dengan minat anak (child oriented).
Dengan memakai pusat bermain aktif, anak akan terlibat secara aktif baik secara fisik maupun mental alasannya yaitu akan mendapat banyak sekali pengalaman mencar ilmu dengan melihat, mendengar dan mengerjakan secara pribadi atau praktek pribadi (learning by doing). Adapun tujuan dari pada pembelajaran pusat sanggup disimpulkan sebagai berikut:
Meningkatkan pelayanan pengalaman mencar ilmu kepada anak secara lebih mendalam dengan menawarkan kebebasan bereksplorasi dalam setiap sentranya.
Dengan adanya pusat melatih belum dewasa untuk lebih berdikari alasannya yaitu tidak bergantung pada guru kelasnya saja, tetapi akan lebih diarahkan untuk melaksanakan kegiatan dengan guru-guru yang lain terutama yang menjadi guru sentra.
Dengan adanya guru sentra, maka guru pusat akan lebih fokus dalam mengembangkan pusat yang menjadi tanggung jawabnya dengan menuangkan segala pengembangan inspirasi kreatifnya.
Proses pembelajaran dibutuhkan berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan anak bekerja mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke anak.
Dalam konteks itu, anak mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana pencapaiannya, mereka sadar bahwa apa yang mereka pelajari akan berkhasiat bagi hidupnya nanti.
Anak sanggup memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti, dalam hal ini guru pusat bertugas sebagai pengarah dan pembimbing atau inspirator.
Karakteristik Model Pembelajaran Sentra
Model pembelajaran pusat merupakan model pembelajaran yang mempunyai karakteristik yang tidak dimiliki oleh pembelajaran lainnya. Adapun karakteristiknya sanggup dilihat dari beberapa aspek, sebagai berikut:
Ruangan Kelas; Ruangan kelas sanggup dimodifikasi menjadi kelas-kelas kecil, yang disebut ruangan vak atau sentra-sentra. Setiap ruangan vak atau pusat terdiri atas satu bidang pengembangan. Ada pusat bahasa, pusat daya pikir, pusat daya cipta, pusat agama (imtaq), pusat seni, pusat kemampuan motorik. Dengan memakai kegiatan main yang meliputi tiga jenis main (sensorimotor, kiprah dan pembangunan). Rasio cukup, ukuran kelompok ideal (maksimal 10 anak), ruang cukup luas (5-7 meter persegi per anak).
Guru; Setiap guru harus menyayangi dan menguasai bidang pengembangan masing-masing. Guru harus memberi klarifikasi secara umum kepada belum dewasa yang mengunjungi sentranya sesuai dengan tema yang dipelajari, memberi pengarahan, mengawasi dan memperhatikan belum dewasa ketika memakai alat-alat sesuai dengan materi yang dipelajarinya, selanjutnya menanyakan kesulitan yang dialami oleh muridmurid dalam mengerjakan materi tersebut. Selain itu, guru pusat harus menguasai perkembangan setiap anak dalam mengerjakan banyak sekali kiprah sehingga sanggup mengikuti tempo dan irama perkembangan setiap anak dalam menguasai bahan-bahan pengajaran atau kiprah perkembangannya. Dalam pembelajaran pusat ini, satu guru pusat hanya bertanggung jawab pada 7 hingga 12 anak saja dengan moving class setiap hari dari satu pusat ke pusat lain.
Bermain; Menjadikan kegiatan "bermain" sebagai kegiatan inti, anak mencar ilmu melalui permainan mereka.
Pijakan; Ada pijakan-pijakan yang mengantarkan anak maju atau naik sendiri ke tahap perkembangan berikutnya. Ada "circle times" (saat lingkaran)
Intensitas dan densitas; Intensitas yaitu sejumlah waktu yang dibutuhkan anak untuk pengalaman tiga jenis main sepanjang hari dan sepanjang tahun. Sedangkan densitas yaitu banyak sekali macam cara setiap jenis main yang disediakan untuk mendukung pengalaman anak.
Bahan dan Tugas; Bahan pengajaran setiap pusat terdiri dari materi minimal dan materi tambahan. Bahan minimal yaitu materi pengajaran yang berisi uraian perkembangan kemampuan minimal yang harus dikuasai setiap anak sesuai tingkat usianya. Bahan ini harus dikuasai anak dan merupakan sasaran kemampuan minimal dalam mempelajari setiap pusat tertentu.
Anak dan Tugasnya; Setiap anak akan mendapat kiprah dan klarifikasi secara klasikal. Masing-masing anak sanggup menentukan pusat yang akan diikutinya. Ia bebas menentukan waktu dan alat-alat untuk menuntaskan tugasnya. Setiap anak dilarang mengerjakan kiprah lain sebelum kiprah yang dikerjakannya selesai. Untuk mengembangkan sosiobilitas, anak boleh mengerjakan kiprah tertentu bersama-sama. Dengan cara ini, anak akan mempunyai kesempatan bersosialisasi, bekerja sama, tolong menolong satu dengan lainnya.
Evaluasi Kemajuan Perkembangan Anak; Pencatatan kegiatan mencar ilmu anak dilakukan setiap pertemuan dengan cara mencatat perkembangan kemampuan anak dalam hal motorik kasar, halus, berbahasa, sosial dan aspek-aspek lainnya. Pencatatan kegiatan main anak dilakukan oleh guru (pendidik).
Selain mencatat kemajuan mencar ilmu anak, guru juga sanggup memakai lembaran check list perkembangan anak, dilihat dari hasil kerja anak-anak, alasannya yaitu itu, semua hasil karya anak dijadikan sebagai materi penilaian dan laporan perkembangan mencar ilmu anak kepada orang bau tanah masing-masing.
Macam-macam Sentra dalam Model Pembelajaran Sentra
Pada model pembelajaran pusat ada beberapa macam sentra. Pemilihan pusat yang akan dikembangkan sangat diubahsuaikan dengan banyak sekali multi kecerdasan yang akan dikembangkan antara lain :
a. Sentra Imtaq (Keimanan dan Ketaqwaan)
Pada pusat ini berisi banyak sekali kegiatan untuk menanamkan nilai-nilai agama, keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sentra ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan beragama pada anak semenjak dini dan membentuk pribadi yang cerdas berperilaku sesuai dengan norma-norma agama. Kegiatan yang dilakukan merupakan kegiatan yang sederhana dan menyenangkan bagi anak mengingat bahwa pengenalan dan pemahaman terhadap agama merupakan suatu konsep yang abstrak, perlu diterjemahkan menjadi acara yang nyata bagi anak. Bahan-bahan yang disiapkan yaitu banyak sekali bangunan ibadah berbentuk mini, alat-alat beribadah dan kitab banyak sekali agama, buku-buku cerita, gambar-gambar dan alat permainanlain yang bernuansa agama.
Dalam pusat ini anak melaksanakan kegiatan bermain untuk mengenal agama Islam seperti; rukun Islam (syahadat, shalat, puasa, zakat, haji), rukun iman/akidah (iman kepada Allah, malaikat, nabi dan rasul, kitab Allah, hari akhir), al-Qur’an (mengaji) dan moral (mengucapkan kalimat thayyibah, akhlakul karimah, salam, dan lain-lain)
b. Sentra Bahan Alam
Sentra materi alam mempunyai tujuan untuk menawarkan pengalaman pada anak untuk bereksplorasi dengan banyak sekali materi. Di pusat ini, anak bermain sambil mencar ilmu untuk sanggup memperlihatkan kemampuan menunjukkan, mengenali, membandingkan, menghubungkan dan membedakan. Dengan bereksplorasi dan bereksperimen anak akan mempunyai inspirasi dan kepekaan terhadap pengetahuan dan alam sekitar sehingga tumbuh motivasi dan kepercayaan diri dalam belajar.
c. Sentra Seni
Sentra seni mempunyai fokus menawarkan kesempatan pada anak untuk mengembangkan banyak sekali keterampilannya., terutama keterampilan tangan dengan memakai banyak sekali materi dan alat, seperti: melipat, menggunting, mewarnai, menciptakan prakarya, melukis dan menciptakan prakarya dengan memakai adonan. Di pusat ini, anak bermain sambil mencar ilmu mengasah rasa keindahan, membangun kemandirian, kerja sama, tanggung jawab, bersosialisasi, melatih koordinasi mata, tangan, kaki dan pikiran.
d. Sentra Bermain Peran Sesungguhnya (Macro Play)
Sentra bermain kiprah makro mendukung sepenuhnya pada perkembangan bahasa dan interaksi sosial. Bermain kiprah makro yaitu bermain kiprah yang seperti anak bermain sesuai dengan yang sesungguhnya.
e. Sentra bermain kiprah (micro play)
Sentra bermain kiprah mikro (micro play) sama dengan bermain kiprah makro, tetapi pada mikro anak memakai miniatur dari kehidupan sosial manusia, contohnya anak memakai rumah Barbie dan boneka untuk bermain.
f. Sentra balok
Sentra balok membantu perkembangan anak dalam keterampilan berkonstruksi. Sentra ini terutama untuk mengembangkan kemampuan visual spasial dan matematika anak usia dini.
g. Sentra Persiapan
Sentra persiapan berfokus untuk menawarkan kesempatan pada anak mengembangkan kemampuan matematika, pra menulis dan pra membaca, dengan kegiatan antara lain: mengurutkan, mengklasifikasikan, dan mengelompokkan banyak sekali acara lainnya yang mendukung perkembangan kognitif anak.
Setiap orang renta menginginkan anaknya cerdas. Kecerdasan intinya bisa dibedakan menjadi dua, yaitu kecerdasan mental dan kecerdasan intelektual. Di sinilah penting peranan orang renta dalam berbagi kecerdasan anak. Masih banyak orang renta yang memuja kecerdasan intelektual yang mengandalkan kemampuan berlogika semata. Orang renta merasa besar hati dan berhasil mendidik anak, jika melihat anak-anaknya mempunyai nilai rapor yang bagus, menjadi juara kelas. Tentu saja hal ini tidak salah, tetapi tidak juga benar seratus persen.
Beberapa penelitian justru memperlihatkan bahwa kecerdasan emosional, kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritual yang lebih kuat bagi kesuksesan seorang anak. Untuk itu membangun anak yang cerdas harus bersamaan dengan mengantarkan keimanan dan ketakwaan. Kecerdasan anak akan melahirkan sikap ketundukan dan akreditasi akan keberadaan Allah SWT. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan juga harus disertai dengan penanaman kebijaksanaan pekerti luhur supaya anak mempunyai berpengetahuan sekaligus mempunyai huruf dan beradab, sehingga anak memilki ilmu yang utuh, seimbang dan lengkap dalam semua aspek pembelajaran, atau yang dikenal dengan pendidikan holistik.
Pembelajaran terpadu, yang lebih dikenal intergrated learning (pembelajaran yang memadukan aneka macam penguasaan dari beberapa mata pelajaran yang keterkaitan pada suatu tema), sehingga anak terbiasa memandang segala sesuatu dalam citra yang utuh. Integrasi proses pembelajaran di sekolah, dirasa perlu untuk menginterpretasikan kembali seluruh materi pelajaran sekolah dengan muatan-muatan nilai yang Islami.
Sementara itu integrated learning berbasis Asmaul Husna sanggup memperlihatkan peluang kepada siswa dari aneka macam sumber infomasi berbeda dalam suatu tema, sehingga siswa sanggup memecahkan problem dengan memperhatikan faktor- faktor berbeda (ditinjau dari aneka macam aspek). Selain itu dengan kurikulum terintegrasi, proses berguru menjadi relevan dan kontekstual sehingga siswa sanggup berpartsipasi aktif dalam seluruh dimensi, baik fisik, social, emosi, dan pengetahuan.
Misalnya, Tema besar yang diambil dalam satu tahun ialah "IBU KOTA JAKARTA" dengan tujuan mengenalkan pusat pemerintahan negara Indonesia.Tema besar dikembangkan menjadi tema kecil dengan seluruh tema di kaitkan dengan Asmaul Husna guna mendidik akseptor didik supaya senantiasa mengagungkan Allah SWT. Tema yang dikembangkan contohnya ibarat tema di bawah ini:
Allah الواسع (Al-Waasi) memperlihatkan lingkungan Jakarta menjadi ibukota negara yang padat dan ramai.
Allah الفتاح (Al-Fattaah) membuka pintu rahmat untuk memperingati hari Kemerdekaan Indonesia di bulan Ramadhan
Allah النافع (An-Naafi) Maha Memberi manfaat buah-buahan yang merupakan kebutuhan bagi masyarakat Jakarta
Allah الحليم (Al-Haliim) Maha Pemberi kesabaran kepada seniman Betawi.
Allah الخالق (Al-Khaaliq) telah membuat hewan yang hidup di dua alam
Allah السلام (As-Salaam) Maha menyelamatkan masyarakat Jakarta dari peristiwa banjir
Allah الرشيد (Ar-Rasyiid) Maha Pemberi kepandaian kepada insan untuk membuat televisi
Allah النور (An-Nuur) Maha Pemberi Cahaya api pada kehidupan manusia
Allah الهادئ (Al-Haadii) telah memberi petunjuk kepada insan untuk membuat bus way sebagai alat transportasi untuk rekreasi
Allah الماجد (Al-Majiid) maha memuliakan para jagoan pejuang tanah Betawi
Pembelajaran diatas yang dilaksanakan dengan memperhatikan tumbuh kembang anak dan tetap memperhatikan prinsisp-prinsip pendidikan anak usia dini, diantaranya; proses pembelajaran berlandaskan pada teori dan pengalaman empirik, upaya dalam merangsang seluruh aspek kecerdasan anak (kecerdasan jamak) melalui bermain yang berkala dan terarah serta santunan pendidik. Selain itu Pembelajaran diubahsuaikan pula dengan tahapan, karakteristik dan perkembangan anak.
Pendekatan model pembelajaran yang di lakukan melalui pengembangan model yang berpusat kepada anak, sangat efektif dalam melejitkan kecerdasan anak. Untuk itu integrated learning berbasis Asmaul Husna dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan yangmenyenangkan, merangsang semua aspek kecerdasan, sesuai tahap perkembangan, potensi, dan kebutuhan masing-masing anak, dan dilaksanakan secara bertahap, berulang dan tuntas.
Dengan demikian upaya melejitkan semua potensi anak, baik motorik, bahasa, kognitif, emosional, dan sosial dengan mengedepankan kebebasan memilih, merangsang kreativitas, dan penumbuhan huruf berlandaskan kepada sifat-sifat Illahiyah menimbulkan anak lebih bisa mengenal Allah lebih dekat. Keinginan orang renta untuk mewujudkan anak yang cerdas, bertaqwa dan berakhlak mulia dengan sendirinya sanggup tercapai dengan optimal.
Adapun acara pembelajaran yang dipakai dalam model sentra, mengadopsi dan berbagi teori yang dikemukakan oleh Jean Piaget, Lev Vigotsky, Anna Freud, dan Sarah Smilansky. Para jago psikolog tersebut percaya bahwa ada empat unsur atau konsep dasar yang harus diperhatikan dalam menyelenggarakan pembelajaran untuk anak usia dini, yaitu teori pengetahuan (theory of knowledge), teori perkembangan (theory of development), teori berguru (theory of learning), dan teori mengajar (theory of teaching). Adapun teori-teori tersebut adalah:
a. Teori pengetahuan
Piaget menyampaikan bahwa insan itu mempunyai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap individu dalam menjalani hidupnya. Pengetahuan ini sudah ada dalam diri insan dan tinggal mengkonstruk saja.
b. Teori Perkembangan (Theory of Development)
Manusia mempunyai pola perkembangan dan karakteristik dari bayi hingga dewasa. Para jago psikologi beropini bahwa insan dalam perkembangannya mempunyai karakteristik tertentu.
c. Teori Belajar (Learning Theory)
Sesuai dengan acara pendidikan bagi anak usia dini yaitu penerapan pembelajaran yang sempurna dengan pendekatan bermain, bahwa dari teori pengembangan tersebut sanggup dilihat anak memperoleh pengetahuan yang sanggup berbagi kemampuan dirinya melalui kegiatan bermain sambil berguru (learning by playing). Pada hakikatnya anak bahagia bermain, anak sangat menikmati permainan, tanpa terkecuali.
Melalui bermain, anak sanggup beradaptasi dengan lingkungannya dan sanggup menjadi lebih dewasa. Hal terpenting yang harus diperhatikan dalam bermain ialah :
Bermain harus muncul dalam diri anak.
Bermain harus bebas dari hukum yang mengikat.
Bermain ialah acara yang faktual dan sesungguhnya.
Bermain harus difokuskan pada proses dari pada hasil.
Bermain harus didominasi oleh pemain.
Bermain harus melibatkan tugas aktif dari pemain.
Peran orang remaja dalam bermain sangat penting, dimana orang remaja memperlihatkan makna pada permainan si anak, supaya dalam bermain anak sanggup memperoleh pengetahuan.
Adapun jenis-jenis main yang dikembangkan adalah:
1. Sensorimotor atau main fungsional
Kebutuhan sensorimotor anak didukung saat mereka diberi kesempatan untuk bergerak secara bebas, bermain di halaman atau di lantai atau di meja dan di kursi. Kebutuhan bermain sensorimotor anak didukung jika lingkungan baik di dalam maupun di luar ruangan menyediakan kesempatan untuk berafiliasi dengan banyak tekstur dan barbagai jenis materi bermain yang berbeda yang mendukung setiap kebutuhan perkembangan anak.
2). Main tugas (mikro dan makro)
Main tugas juga disebut main simbolik, pura-pura, make believe, fantasi, imajinasi, atau main drama sangat penting untuk perkembangan kognisi, sosial dan emosi anak pada usia tiga hingga enam tahun (Vigotsky, 1967, Erikson, 1962). Fungsi main tugas memperlihatkan kemampuan berpikir anak yang lebih tinggi. Sebab anak bisa menahan pengalaman yang didapatnya melalui panca indra dan menampilkannya kembali dalam bentuk sikap berpura-pura. Main tugas membolehkan anak memproyeksikan diri ke masa depan, membuat kembali ke masa kemudian dan berbagi ketrampilan khayalan.
3). Main Pembangunan
Main pembangunan juga dibahas dalam kerja Piaget (1962) dan Smilansky (1968). Piaget menjelaskan bahwa kesempatan main pembangunan membantu anak untuk berbagi keterampilannya yang akan mendukung keberhasilan sekolahnya di kemudian hari. 13 Main pembangunan bertujuan merangsang kemampuan anak mewujudkan pikiran, ide, dan gagasannya menjadi karya nyata.
Selain itu, anak menghadirkan dunia mereka melalui main pembangunan, mereka berada di posisi tengah antara main dan kecerdasan menampilkan kembali. Ketika anak bermain pembangunan, anak terbantu berbagi keterampilam koordinasi motorik halus juga berkembangnya kognisi ke arah berpikir operasional, dan membangun keberhasilan sekolah di kemudian hari, rujukan materi main berupa materi pembagunan yang terstruktur, ibarat balok unit, balok berongga, balok berwarna, logo, puzzle, cat, pulpen hingga pensil.
d. Teori Pembelajaran (Theory of Instruction)
Pembelajaran pada anak usia dini selalu memakai pendekatan bermain anak. Program ini memperlihatkan kesempatan pada anak untuk bermain dan mengeksplorasi permainannya seluas-luasnya sesuai dengan tahapan perkembangan yang dimiliki oleh individu masing-masing anak.
Pada model pembelajaran sentra, seorang guru lebih sebagai pengkonstruksi pemikiran anak dan pengobserver perkembangan anak serta sebagai model bagi anak.
Agar tercapai pelaksanaan pembelajaran, tentu saja yang harus diperhatikan ialah karakteristik perkembangan anak, alasannya ialah dalam pembelajaran model pusat ini, yang dibutuhkan ialah tercapainya perkembangan psikologis anak sesuai dengan usia biologisnya secara natural sesuai dengan irama perkembangan masing-masing anak.
Rencana pelaksanaan pembelajaran merupakan kurikulum operasional yang dijadikan pola bagi guru untuk mengelola kegiatan bermain untuk mendukung anak dalam proses belajar.
Rencana pelaksanaan pembelajaran dibentuk sebelum pelaksanaan pembelajaran. Rencana pembelajaran harus mengacu kepada karakteristik (usia, sosial budaya dan kebutuhan individual) anak yang terlibat dalam pembelajaran.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai pola guru dalam melaksanakan pembelajaran untuk:
mendukung keberhasilan pelaksanaan pembelajaran
mengarahkan guru untuk menyiapkan alat dan materi yang diperlukan,
mengarahkan guru untuk membangun sikap, pengetahuan dan keterampilan yang diharapkan dimiliki anak
Mengacu pada kompetensi dasar (KD) yang memuat sikap, pengetahuan, dan keterampilan utnuk mewujudkan ketercapaian Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) yang meliputi nilai agama dan moral, motorik, kognitif, bahasa, social emosional dan seni.
Memuat materi yang sesuai dengan KD dan dikaitkan dengan tema.
Memilih kegiatan selaras dengan muatan/ materi pembelajaran
Mengembangkan kegiatan main yang berpusat pada anak
Menggunakan pembelajaran tematik
Mengembangkan cara berfikir saintifik
Berbasis budaya lokal dan memanfaatkan lingkungan alam sekitar, sebagai media bermain anak
Menurunkan KD menjadi Materi/Muatan Ajar
Pada pembelajaran PAUD hal yang terpenting ialah proses berguru yang menumbuhkan anak bahagia belajar, bahagia melaksanakan proses saintis, BUKAN menekankan pada penguasaan materi alasannya ialah evaluasi atau assessment pada aktivitas anak usia dini merujuk pada tahap perkembangan. Inilah keunikan kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini.
Namun demikian proses pembelajaran pada anak usia dini yang dilakukan melalui kegiatan bermain juga menunjukkan penambahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan anak yang sesuai dengan Kompetensi Dasar dengan memperhatikan kemampuan yang sesuai tahap perkembangan anak pada usia tertentu pada umumnya. Oleh alasannya ialah itu pendidik juga harus bisa menurunkan materi yang sesuai dengan Kompetensi Dasar.
Perlunya Pemahaman Materi
Mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan anak
Anak lahir membawa potensi dan berwujud fisik maupun nonfisik; berupa qalb, akal, emosi, dan bermacam-macam kecerdasan .Dalam perjalanan waktu, setiap potensi yang dibawa oleh belum dewasa akan mengalami dua kemungkinan : tumbuh dan berkembang atau sebaliknya. Diantara tahapan perkembangan, para andal umumnya menyatakan bahwa masa kanak-kanak merupakan masa terpenting dalam rentang kehidupan manusia, masa yang sangat signifikan bagi tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.
Perkembangan merupakan suatu proses yang progresif, yang terus maju dan tidak mundur, tidak kembali pada perkembangan semula, berkesinambungan, tidak statis, semenjak lahir hingga ia mati. Perkembangan yaitu hasil dari interaksi antara perubahan, pematangan, dan pengalaman (observasi yang intensif atas ketiga anaknya sendiri meyakinkan dirinya bahwa anak yaitu organism aktif yang mencari stimulasi dan menyusun pengalaman mereka sendiri tanpa instruksi atau pemrograman eksklusif dari lingkungan). Perkembangn berarti adanya perubahan dalam banyak sekali aspek (kognitif, sosial, fisik, dan emosi). Secara terperinci karakteristik perkembangan AUD sanggup dilihat sebagai berikut:
Karakteristik Perkembangan Anak Usia 0 – 6 Tahun
Usia 0-1 Tahun
Fisik
Mengendalikan otot mata
Menggunakan seluruh panca inderanya
Mengangkat kepala saat ditengkurapkan
Mengendalikan gerakan kepala dan lengan
Telentang dan tengkurap sendiri
Menggenggam
Mengendalikan leher dan tangan
Duduk
Merangkak
Berdiri
Berjalan
Sosial
Tidak berdaya
Asosial
Makan dibantu orang lain
Memperhatikan dan tersenyum pada wajah yang dikenalnya
Senang diayun
Mengenali ibunya
Mengenali orang yang dikenalnya dan orang asing
Tersenyum dengan tujuan
Mengharapkan diberi makan, dimandikan dan diberi pakaian
Senang bermain ciluk ba
Merespon jikalau dipanggil namanya
Melambaikan tangan
Mengerti kata “tidak!”
Memberi dan mendapatkan sesuatu
Emosional
Secara umum masih suka tegang
Ada senyuman di wajah
Tidak nyaman
Senang di peluk-peluk
Terbangun kelekatan emosional yang khas dengan ibunya
Memprotes jikalau dipisahkan dari ibu
Rasa marah
Rasa cinta
Takut pada orang asing
Muncul rasa ingin tahu
Mengeksplorasi lingkungan
Kognitif
Merupakan tahap “hilang dari pandangan, hilang dari fikiran” (object performance)
Rasa ingin tahu yang sangat terhadap segala sesuatu yang sanggup dilihatnya.
Menangis
Membentuk sepatah kalimat
Mengeluarkan suara-suara untuk mencari perhatian
Tertarik pada gambar-gambar berwarna, musik dan nyanyian
Dapat mengucapkan satu kata, ibarat "mama" dan "dada"
2 Tahun
Fisik
Berjalan dengan baik
Naik turun tangga sendiri
Mandiri untuk toileting
Bisa menggunakan sendok dan garpu
Membalik halaman buku
Menendang bola
Berusaha untuk menggunakan baju sendiri
Membangun menara dari 6 balok
Sosial
Bermain soliter
Bergantung pada petunjuk orang dewasa
Bermain dengan boneka
Bisa menunjuk dirinya jikalau dipanggil namanya
Belum matang secara sosial
Bisa melakukan perintah sederhana
Emosional
Sangat self-centered
Mulai mengerti wacana identitas diri dan kepemilikan
Posesif
Sering berlaku negatif
Sering frustrasi
Belum memilki kemampuan untuk memilih
Menyenangi pelukan, belaian
Tidak simpel berubah
Mulai mandiri
Lebih responsif terhadap humor dan gangguan daripada thdp disiplin dan penjelasan
Kognitif
Mulai berkata-kata
Membuat kalimat sederhana terdiri dari 2 kata
Memiliki kosa kata 272 kata
Memahami pengarahan sederhana
Bisa meng identifikasi gambar sederhana
Senang lihat-lihat buku-buku
Rentang perhatian masih rendah
Memainkan puzzle sederhana
3 Tahun
Fisik
Sudah bisa berlari dengan baik
Melangkah dengan berirama
Bisa berdiri satu kaki
Mengendarai sepeda roda 3
Menirukan gerakan menyilang
Sudah bisa makan sendiri
Mengguna kan kaos kaki dan sepatu
Melepas dan mengancingkan baju
Membangun menara dari 10 balok
Menuang air dari teko
Sosial
Bermain paralel
Menikmati kebersamaan dengan orang lain
Menunggu giliran
Mengenali jenis kelaminnya
Menikmati permainan berkelompok yang tidak memerlukan keterampilan khusus tapi sebentar
Merespon terhadap isyarat yang sifatnya verbal
Emosional
Senang untuk ditenangkan
Bersikap santai
Menanggapi perubahan lebih tenang
Merasa lebih aman
Rasa kepemilikan lebih tinggi
Mulai bahagia menjelajah
Menikmati musik
Kognitif
Menyebutkan kalimat pendek
Memiliki kosa kata 896 kata
Perkembangan komunikasi sangat pesat
Menyampaikan kisah sederhana
Hasil pedoman disampaikan melalui kata-kata
Ingin memahami lingkungan
Menjawab pertanyaan
Berimajinasi
Bisa menyanyikan beberapa lagu anak-anak
4 Tahun
Fisik
Bisa engklek
Menggambar “orang”
Mulai menggunting dengan gunting
Dapat membasuh dan mengeringkan wajah
Bisa menggunakan pakaian sendiri kecuali menalikan pita
Melempar bola
Keinginan bergerak tinggi
Sosial
Bermain kooperatif
Menikmati ditemani anak lain
Senang berlaku sosial
Bisa bermain games sederhana
Talkative
Terampil
Emosional
Yakin terhadap diri
Bertingkah laris agak keluar batas
Seringkali negatif
Kadang-kadang menentang
Suka mengetest diri sendiri
Ingin diberi kebebasan
Kognitif
Sudah bisa menciptakan kalimat secara lengkap terdiri dari 4 kata
Memiliki kosa kata 1540 kata
Terus-terusan bertanya
Belajar untuk menggeneralisasi
Sangat imajinatif
Bermain drama
menggambar obyek yang bisa dikenali
5 Tahun
Fisik
Bisa melompat dan meloncat
Berpakaian sendiri
Memiliki keseimbangan yg baik
Gerakan otot-otot lebih lancar
Mengendarai mobil-mobilan dan skuter
Menuliskan huruf-huruf sederhana
Penggunaan tangan yang mayoritas lebih terlihat
Bisa menalikan sepatu
Kemampuan motorik halus anak wanita berkembang 1 tahun lebih cepat dari anak laki-laki
Sosial
Bermain kooperatif tingkat tinggi
Punya sahabat akrab
Sangat terorganisir
Menikmati permainan meja yang menggunakan hukum giliran
Masuk sekolah
Merasa besar hati dengan apa yang dimilikinya
Bersemangat untuk mengambil suatu tanggungjawab
Emosional
Percaya diri
Stabil
Bisa beradaptasi dengan baik
Senang mengasosiasikan dengan ibu
Kapabel
Punya kritik diri
Menikmati tanggungjawab
Menyukai dan bisa mengikuti hukum main
Kognitif
Memiliki kosa kata 2,072 kata
Bercerita dongeng yang panjang
Menjalankan isyarat dengan baik
Membaca namanya sendiri
Bisa menghitung hingga 10
Menanyakan arti dari kata-kata
Mengenal warna
Mulai mengetahui perbedaan antara fakta dan kebohongan
Tertarik akan lingkungan sekeliling
6 Tahun
Fisik
Berjalan mundur dengan jinjit atau tumit
Lompat tali sebanyak 3 – 10 lompatan berturut-turut
Berlari ke depan sambil menendang bola yang menggelinding
Berjalan diatas titian dengan jinjit atau tumit
Melempar bola dengan perilaku yang benar
Melipat kertas secara diagonal dan merapihkan
Menggunakan pinsil dan penghapus
Menggambar orang dengan lengkap
Menirukan bentuk persegi panjang, segitiga, belah ketupat
Menyusun menara 12 balok
Menggunting bentuk
Sosial
Bermain bersama dengan 1 atau 2 anak selama 20 menit
Bermain 2 atau 3 permainan meja (halma, ular tangga dll)
Bermain permainan dengan hukum yg sederhana
Bekerja dalam kelompok kecil sedikitnya selama 20 menit
Membual/membesar-besarkan cerita, bahagia humor
Dapat melihat perbedaan antara sekolah dan rumah
Mungkin akan menggunakan kalimat: "Bu guru bilangnya ………."
Dapat bermain sendiri dengan mainannya
Mungkin menirukan karakter di TV
Membentuk persahabatan dengan 1 atau 2 sahabat sebaya
Emosional
Menjadi frustasi jikalau gagal dan tidak mau minta dukungan orang lain
Ingin mengerjakan sesuatu sendiri
Mulai memban-dingkan prestasinya dengan orang lain
Sangat menginginkan apa yang dimiliki orang lain
Menanggapi dengan bahagia hati apa yg terjadi disekelilingnya dan memperhatikan detil-detil kecil, mahluk hidup, dan fenomena alam
Kognitif
Memiliki kosa kata lebih dari 3.000 kata
Biasanya menikmati tugas-tugas yg berkaitan dengan angka
Belajar lebih banyak mengenai lantaran jawaban dan menikmati bereksperimen
Jenis Strategi Pembelajaran Umum dan Khusus RA Taman Kanak-kanak PAUD. Ada beberapa jenis seni administrasi pembelajaran umum yang sanggup dipakai di Taman Kanak-kanak. Strategi pembelajaran tersebut pada umumnya lebih menekankan pada acara anak dalam belajar, namun, tidak berarti peranan guru pasif.
Guru harus berperan sebagai fasilitator yang sanggup menunjukkan fasilitas dan kelancaran kepada anak dalam proses belajar. Jenis-jenis seni administrasi pembelajaran umum tersebut adalah:
meningkatkan keterlibatan indra,
mempersiapkan kode lingkungan,
analisis tugas
scaffolding,
praktik terbimbing
undangan / ajakan,
efleksi tingkah laris / tindakan,
efleksi kata-kata,
contoh atau modelling,
penghargaan efektif),
menceritakan/menjelaskan/menginformasikan,
do-it-signal,
tantangan,
pertanyaan, dan
kesenyapan.
Strategi-strategi pembelajaran tersebut sanggup digabungkan dalam keseluruhan proses pembelajaran, sehingga tercipta kegiatan mencar ilmu yang lebih bervariasi.
1. Strategi Pembelajaran Khusus di Taman Kanak-kanak
Terdapat beberapa jenis seni administrasi pembelajaran khusus yang sanggup diterapkan di Taman Kanak-kanak. Penerapan seni administrasi pembelajaran khusus tersebut pada prinsipnya sama dengan penerapan seni administrasi pembelajaran umum, yaitu harus mempertimbangkan karakteristik tujuan, karakteristik anak dan cara belajarnya, karakteristik daerah yang akan digunakan, dan pola kegiatan.
Jenis seni administrasi pembelajaran khusus tersebut adalah
kegiatan eksploratori,
Penemuan Terbimbing,
Pemecahan Masalah,
Diskusi,
Belajar Kooperatif,
Demonstrasi, dan
Pengajaran Langsung.
Di samping seni administrasi pembelajaran di atas, guru Taman Kanak-kanak dituntut untuk sanggup memakai seni administrasi pembelajaran lainnya sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik.
2. Rasional Pembelajaran yang Berpusat pada Anak
Anak pada hakikatnya mempunyai potensi untuk aktif dan berkembang. Pembelajaran yang berpusat pada anak banyak diwarnai paham konstruktivis yang dimotori Piaget dan Vigotsky. Anak yakni pembangun aktif pengetahuannya sendiri. Mereka membangun pengetahuannya dikala berinteraksi dengan objek, benda, lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
Yang melandasi pembelajaran yang berpusat pada anak yakni pendekatan perkembangan dan pendekatan mencar ilmu aktif.
Belajar aktif merupakan proses dimana anak usia dini mengeksplorasi lingkungan melalui mengamati, meneliti, menyimak, menggerakkan tubuh mereka menyentuh, mencium, meraba dan menciptakan sesuatu terjadi dengan objek-objek di sekitar mereka.
Karakter pembelajaran yang berpusat pada anak
prakarsa kegiatan tumbuh dari minat dan impian anak,
Anak-anak menentukan materi dan tetapkan apa yang ingin ia kerjakan,
Anak mengekspresikan bahan-bahan secara aktif dengan seluruh indranya, 4) Anak menemukan alasannya yakni akhir melalui pengalaman langsung, 5) Anak mentransformasikan dan menggabungkan bahan-bahan, 6) Anak memakai otot kasarnya, 7) Anak menceritakan pengalamannya.
Prosedur Pembelajaran yang Berpusat pada Anak
Pembelajaran yang berpusat pada anak harus direncanakan dan diupayakan dengan matang. Upaya yang dilakukan yakni dengan merencanakan dan menyediakan bahan/peralatan yang sanggup mendukung perkembangan dan mencar ilmu anak secara komprehensif.
Untuk itu perlu disediakan area-area yang memungkinkan aneka macam kegiatan sesuai pilihannya. Area- area tersebut meliputi:
Area Pasir dan Air.
Area Balok.
Area Rumah dan Bermain Drama.
Area Seni.
Area Manipulatif.
Area Membaca dan menulis.
Area pertukangan atau kerja Kayu.
Area musik dan gerak.
Area komputer.
Area bermain di luar ruangan.
Pelaksanaan pembelajaran yang berpusat pada anak meliputi: tahap perencanaan, tahap bekerja dan tahap melaporkan kembali.
3. Strategi Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu yakni pendekatan yang dipakai dalam pembelajaran dengan mengintegrasikan kegiatan ke dalam semua bidang kurikulum atau bidang-bidang pengembangan yang mencakup pengembangan aspek kognitif, bahasa, fisik-motorik, social-emosi, estetika, social, moral, dan agama. Yang menjadi focus dalam pembelajaran terpadu yakni tema.
Pembelajaran terpadu mempunyai karakteristik sebagai berikut: dilakukan melalui kegiatan pengalaman langsung, sesuai dengan kebutuhan dan minat anak, menunjukkan kesempatan kepada anak untuk memakai semua pemikirannya, memakai bermain sebagai wahana belajar, menghargai perbedaan individu, melibatkan orang renta atau keluarga anak untuk mengoptimalkan pembelajaran.
Prinsp pembelajaran terpadu adalah: berorientasi pada perkembangan anak, kegiatannya dikaitkan dnegan pengalaman konkret anak, materi ajarnya sanggup dieksplorasi oleh anak, mengintegrasikan isi dan proses belajar, melibatkan inovasi aktif, memadukan aneka macam bidang pengembangan, kegiatan mencar ilmu bervariasi, mempunyai potensi untuk dilaksanakan melalui proyek oleh anak, waktu fleksibel, melibatkan anggota keluarga anak, tema sanggup diperluas, dan direvisi seusia dengan minat dan pemahaman yang ditunjukkan anak
Pembelajaran terpadu mempunyai manfaat
meningkatkan perkembangan konsep anak
memungkinkan anak untuk mengeksplorasi pengetahuan melalui aneka macam kegiatan,
membantu guru dan praktisi lainnya untuk membuatkan kemampuan profesionalnya,
dapat dilaksanakan pada jenjang jadwal yang berbeda, untuk semua tingkat usia, dan untuk bawah umur berkebutuhan khusus.
Prosedur Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu menuntut guru untuk bekerja secara professional mulai tahap perencanaan, pelaksanaan sampai tahap penilaian. Agar pembelajaran terpadu sanggup mencapai tujuan yang diharapkan guru harus menempuh prosedur-prosedur sebagai berikut.
Memilih tema Memilih tema terpadu sanggup bersumber dari:
minat anak,
peristiwa khusus
kejadian yang tidak diduga
materi yang dimandatkan oleh lembaga,
orang renta dan guru.
Kriteria pemilihan tema adalah;
relevansi topic dengan anak,
pengalaman langsung,
keragaman dan keseimbangan dalam area kurikulum,
ketersediaan alat-alat,
potensi proyek
Penjabaran tema Tema yang sudah dipilih harus dijabarkan ke dalam sub tema dan konsep-konsep yang di dalamnya terkandung istilah, fakta dan prinsip, kemudian jabarkan kedalam, bidang-bidang pengembangan dan kegiatan mencar ilmu yang lebih operasional.
Perencanaan Perencanaan harus dibentuk secara tertulis sehingga memudahkan guru untuk mengetahui langkah-langkah apa yang harus ditempuh. Tentukan tujuan pembelajaran, kegiatan belajar, waktu, pengorganisasian anak, sumber rujukan, alat-alat permainan yang diperlukan, dan penilaian yang akan dilakukan
Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan lakukan dan kembangkanlah kegiatan mencar ilmu sesuai dengan planning yang telah disusun. Lakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran dan kegiatan-kegiatan yang ditunjukkan anak
Penilaian Penilaian dilakukan pada pelaksanaan dan tamat kegiatan pembelajaran dengan tujuan untuk mengamati proses dan kemajuan yang dicapai anak melalui kegiatan pembelajaran terpadu
Penerapan Stratgei Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu sebagai salah satu pendekatan pembelajaran sanggup diterapkan di forum pendidikan anak usia dini pada umumnya dan Taman Kanak-kanak pada khususnya. Penerapan seni administrasi pembelajaran tersebut terutama harus didasarkan pada pertimbangan karakteristik-karakteristik anak dan tujuan pembelajaran.
Agar penerapan seni administrasi pembelajaran terpadu berlangsung secara efektif maka harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagaimana telah dikemukakan dalam pembahasan konsep dasar seni administrasi pembelajarn terpadu. Stratgei pembelajaran terpadu ditempuh melalui langkah-langkah :
memilih tema,
mengembangkan tema ke dalam sub tema dan konsep,
mengembagkan tema ke dalam bidang-bidang pengembangan dan kegiatan mencar ilmu yang operasional,