Penilaian diri dilakukan dengan cara meminta akseptor didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam berperilaku. Selain itu evaluasi diri juga sanggup dipakai untuk membentuk sikap akseptor didik terhadap mata pelajaran. Hasil evaluasi diri akseptor didik sanggup dipakai sebagai data konfirmasi. Penilaian diri sanggup memberi efek positif terhadap perkembangan kepribadian akseptor didik, antara lain:
1) sanggup menumbuhkan rasa percaya diri, sebab diberi kepercayaan untuk menilai diri sendiri; 2) akseptor didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya, sebab ketika melaksanakan evaluasi harus melaksanakan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimiliki; 3) sanggup mendorong, membiasakan, dan melatih akseptor didik untuk berbuat jujur, sebab dituntut untuk jujur dan objektif dalam melaksanakan penilaian; dan 4) membentuk sikap terhadap mata pelajaran/pengetahuan.
Instrumen yang dipakai untuk evaluasi diri berupa lembar evaluasi diri yang dirumuskan secara sederhana, namun terang dan tidak bermakna ganda, dengan bahasa lugas yang sanggup dipahami akseptor didik, dan memakai format sederhana yang gampang diisi akseptor didik. Lembar evaluasi diri dibentuk sedemikian rupa sehingga sanggup menunjukkan sikap akseptor didik dalam situasi yang nyata/sebenarnya, bermakna, dan mengarahkan akseptor didik mengidentifikasi kekuatan atau kelemahannya. Hal ini untuk menghilangkan kecenderungan akseptor didik menilai dirinya secara subjektif. Penilaian diri oleh akseptor didik dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut.
Menjelaskan kepada akseptor didik tujuan evaluasi diri.
Menentukan indikator yang akan dinilai.
Menentukan kriteria evaluasi yang akan digunakan.
Merumuskan format penilaian, berupa daftar cek (checklist) atau skala evaluasi (rating scale), atau dalam bentuk esai untuk mendorong akseptor didik mengenali diri dan potensinya.
Contoh Lembar Penilaian Diri memakai daftar cek pada waktu kegiatan kelompok
(seperti gambar diatas)
Penilaian diri tidak hanya dipakai untuk menilai sikap spiritual dan sosial, tetapi sanggup juga dipakai untuk menilai sikap terhadap pengetahuan dan keterampilan serta kesulitan mencar ilmu akseptor didik.
Teknik evaluasi antar teman
Penilaian antarteman ialah evaluasi dengan cara akseptor didik saling menilai sikap temannya. Penilaian antarteman sanggup mendorong: (a) objektifitas akseptor didik, (b) empati, (c) mengapresiasi keragaman/perbedaan, dan (d) refleksi diri. Di samping itu evaluasi antarteman sanggup memberi isu bagi guru mengenai akseptor didik yang menurut hasil evaluasi temannya, suka menyendiri dan kurang bergaul. Sebagaimana evaluasi diri, hasil evaluasi antarteman sanggup dipakai sebagai data konfirmasi. Instrumen yang dipakai berupa lembar evaluasi antarteman.
Kriteria penyusunan instrumen evaluasi antarteman
Sesuai dengan indikator yang akan diukur.
Indikator sanggup diukur melalui pengamatan akseptor didik.
Kriteria evaluasi dirumuskan secara sederhana, namun terang dan tidak berpotensi munculnya penafsiran makna ganda/berbeda.
Menggunakan bahasa lugas yang sanggup dipahami akseptor didik.
Menggunakan format sederhana dan gampang dipakai oleh akseptor didik.
Indikator menunjukkan sikap/perilaku akseptor didik dalam situasi yang kasatmata atau bergotong-royong dan sanggup diukur.
Penilaian antar sobat sanggup dilakukan pada ketika akseptor didik melaksanakan kegiatan di dalam dan/atau di luar kelas. Misalnya pada kegiatan kelompok setiap akseptor didik diminta mengamati/menilai dua orang temannya, dan ia juga dinilai oleh dua orang sobat lainnya dalam kelompoknya, sebagaimana diagram pada gambar berikut.
Diagram di atas menggambarkan kegiatan saling menilai sikap atau sikap antarteman.
Peserta didik A mengamati dan menilai B dan E. A juga dinilai oleh B dan E
Peserta didik B mengamati dan menilai A dan C. B juga dinilai oleh A dan C
Peserta didik C mengamati dan menilai B dan D. C juga dinilai oleh B dan D
Peserta didik D mengamati dan menilai C dan E. D juga dinilai oleh C dan E
Peserta didik E mengamati dan menilai D dan A. E juga dinilai oleh D dan A
Contoh instrumen evaluasi antarteman memakai daftar cek pada waktu kerja kelompok.
Pernyataan-pernyataan untuk indikator yang diamati pada format di atas merupakan contoh. Pernyataan tersebut bersifat positif (nomor 1, 2, 3, 6, 8) dan bersifat negatif (nomor 4, 5, dan 7). Guru sanggup berkreasi menciptakan sendiri pernyataan atau pertanyaan dengan memperhatikan kriteria instrumen evaluasi antarteman. Lembar evaluasi diri dan evaluasi antarteman yang telah diisi dikumpulkan kepada guru, selanjutnya dipilah dan direkapitulasi sebagai materi tindak lanjut. Guru sanggup menganalisis jurnal atau data/informasi hasil observasi evaluasi sikap dengan data/informasi hasil evaluasi diri dan evaluasi antarteman sebagai materi pembinaan. Hasil analisis evaluasi sikap perlu segera ditindaklanjuti.
Peserta didik yang menunjukkan banyak sikap positif diberi apresiasi/pujian dan disarankan untuk terus melaksanakan/ meningkatkan, sedangkan akseptor didik yang menunjukkan banyak sikap negatif diberi motivasi/pembinaan dan diingatkan untuk tidak mengulanginya lagi sehingga akseptor didik tersebut sanggup membiasakan diri berperilaku baik (positif). Hal yang sangat penting lagi ialah keteladanan guru, yaitu guru harus memberi pola bersikap spiritual dan sosial/berperilaku baik yang sanggup diteladani akseptor didiknya. Penilaian diri dan evaluasi antarteman dilakukan sekurang-kurangnya satu kali dalam satu semester. Selengkapnya sanggup anda simak panduan evaluasi ini
Penilaian sikap merupakan acara untuk mengetahui ke cenderungan sikap spiritual dan sosial penerima didik dalam kehidupan sehari-hari, baik di dalam maupun di luar kelas sebagai hasil pendidikan. Penilaian sikap ditujukan untuk mengetahui capaian / perkembangan sikap penerima didik dan memfasilitasi tumbuhnya sikap penerima didik sesuai butir-butir nilai sikap dari KI-1 dan KI-2.
1. Teknik Penilaian
Penilaian sikap dilakukan dengan teknik observasi atau teknik lainnya yang relevan, Teknik evaluasi observasi sanggup memakai instrumen berupa lembar observasi, atau buku jurnal (yang selanjutnya disebut jurnal). Teknik evaluasi lain yang sanggup dipakai yakni evaluasi diri dan evaluasi antar teman. Penilaian diri dan evaluasi antar sahabat sanggup dilakukan dalam rangka pelatihan dan pembentukan abjad penerima didik, yang akibatnya sanggup dijadikan sebagai salah satu data konfirmasi dari hasil penilaian sikap oleh pendidik.
a. Teknik Observasi
Penerapan teknik observasi sanggup dilakukan memakai lembar observasi. Lembar observasi merupakan instrumen yang sanggup dipakai oleh pendidik untuk memudahkan dalam menciptakan laporan hasil pengamatan terhadap perilaku penerima didik yang berkaitan dengan sikap spiritual dan sikap sosial. Sikap yang diamati yakni sikap yang tercantum dalam indikator pencapaian kompetensi pada KD untuk mata pelajaran PABP dan PPKn. Pada mata pelajaran selain PABP dan PPKn, sikap yang diamati tercantum pada KI-1 dan KI-2.
Lembar observasi yang dipakai untuk mengamati sikap sanggup berupa:
Observasi terbuka; yaitu pendidik mengamati sikap secara eksklusif penerima didik yang diobservasinya. Pendidik sanggup mencatat butir-butir inti dari perilaku penerima didik yang diamati secara terbuka. Hasil catatan tersebut kemudian dikonstruksi kembali di final pengamatan. Cara terbaik untuk melalukan observasi yakni menyusun catatan sefaktual mungkin dan tidak melaksanakan interpretasi apapun sehingga hasil observasi valid.
Observasi tertutup; yaitu pendidik mengamati penerima didik melalui panduan yang sudah disiapkan sebelum pengamatan. Panduan tersebut sanggup berupa rating scale (skala rentang) atau daftar cek dsb. Dalam melaksanakan observasi terhadap sikap, hal yang perlu direkam yakni suasana atau keadaan ketika su atu sikap terekam. Informasi tersebut penting alasannya yakni sikap itu terekam dalam suasana bebas tetapi terencana. Suasana bersiklus yang dimaksud adalah suasana yang tercipta sebagai acara dalam proses pembelajaran yang direncanakan oleh pendidik, menyerupai pada proses pembelajaran di kelas atau ulangan.
Hasil pengamatan sikap dituangkan dalam bentuk catatan anekdot (anecdotal record), catatan bencana tertentu (incidental record), dan gosip lain yang valid dan relevan yang dikenal dengan jurnal. Jurnal yakni catatan yang dibentuk pendidik selama melaksanakan pengamatan terhadap penerima didik pada waktu acara pembelajaran tertentu. Jurnal biasanya dipakai untuk mencatat sikap penerima didik yang "ekstrim". Jurnal tidak hanya didasarkan pada apa yang dilihat eksklusif oleh pendidik, wali kelas, dan guru BK, tetapi juga informasi lain yang relevan dan valid yang diterima dari banyak sekali sumber.
Pengamatan dengan jurnal mencatat sikap penerima didik yang muncul secara alami selama satu semester. Perilaku penerima didik yang dicatat di dalam jurnal intinya yakni sikap yang sangat baik dan / atau kurang baik yang berkaitan dengan butir sikap yang terdapat dalam aspek sikap spiritual dan sikap sosial. Setiap catatan memuat deskripsi sikap yang dilengkapi dengan waktu teramatinya sikap tersebut, serta perlu dicantumkan tanda tangan penerima didik.
Apabila seorang penerima didik pernah mempunyai catatan sikap yang kurang baik, kalau pada kesempatan lain penerima didik tersebut telah menunjukkan perkembangan sikap (menuju atau konsisten) baik pada aspek atau indikator sikap yang dimaksud, maka di dalam jurnal harus ditulis bahwa sikap penerima didik tersebut telah (menuju atau konsisten) baik atau bahkan sangat baik. Dengan demikian, yang dicatat dalam jurnal tidak terbatas pada sikap kurang baik dan sangat baik, tapi juga setiap perkembangan menuju sikap yang diharapkan.
Berikut yakni beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan penilaian (mengikuti perkembangan) sikap dengan teknik observasi:
Jurnal evaluasi (perkembangan) sikap ditulis oleh wali kelas, guru mata pelajaran, dan guru BK selama periode satu semester.
Bagi wali kelas, 1 (satu) jurnal dipakai untuk satu kelas yang menjadi tanggung-jawabnya; bagi guru mata pelajaran 1 (satu) jurnal dipakai untuk setiap kelas yang diajarnya; bagi guru BK 1 (satu) jurnal dipakai untuk setiap kelas di bawah bimbingannya.
Perkembangan sikap spiritual dan sikap sosial penerima didik sanggup dicatat dalam satu jurnal atau dalam 2 (dua) jurnal yang terpisah.
Peserta didik yang dicatat dalam jurnal intinya yakni mereka yang menunjukkan sikap yang sangat baik atau kurang baik secara alami (peserta didik yang menunjukkan sikap baik tidak harus dicatat dalam jurnal).
Perilaku sangat baik atau kurang baik yang dicatat dalam jurnal tersebut tidak terbatas pada butir-butir nilai sikap (perilaku) yang hendak ditanamkan melalui pembelajaran yang ketika itu sedang berlangsung sebagai mana dirancang dalam RPP, tetapi juga butir-butir nilai sikap lainnya yang ditumbuhkan dalam semester itu selama sikap tersebut ditunjukkan oleh penerima didik melalui perilakunya secara alami.
Wali kelas, guru mata pelajaran, dan guru BK mencatat (perkembangan) sikap penerima didik segera sesudah mereka menyaksikan dan/atau memper oleh gosip terpercaya mengenai sikap penerima didik sangat baik / kurang baik yang ditunjukkan penerima didik secara alami.
Apabila penerima didik tertentu PERNAH menunjukkan sikap kurang baik, ketika yang bersangkutan telah (mulai) menunjukkan sikap yang baik (sesuai harapan), sikap yang (mulai) baik tersebut harus dicatat dalam jurnal.
Pada final semester guru mata pelajaran dan guru BK meringkas perkem bangan sikap spiritual dan sikap sosial setiap penerima didik dan menyerah kan ringkasan tersebut kepada wali kelas untuk diolah lebih lanjut.
b. Penilaian Diri
Penilaian diri dalam evaluasi sikap merupakan teknik evaluasi terhadap diri sendiri (peserta didik) dengan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan sikapnya dalam berperilaku. Hasil evaluasi diri penerima didik sanggup dipakai sebagai data konfirmasi perkembangan sikap penerima didik. Selain itu evaluasi diri penerima didik juga sanggup dipakai untuk menumbuhkan nilai-nilai kejujuran dan meningkatkan kemampuan refleksi atau mawas diri.
c. Penilaian Antar Teman
Penilaian antar sahabat merupakan teknik evaluasi yang dilakukan oleh seorang penerima didik (penilai) terhadap penerima didik yang lain terkait dengan sikap / sikap penerima didik yang dinilai. Sebagaimana evaluasi diri, hasil penilaian antar sahabat sanggup dipakai sebagai data konfirmasi. Selain itu penilaian antar sahabat juga sanggup dipakai untuk menumbuhkan beberapa nilai menyerupai kejujuran, tenggang rasa, dan saling menghargai.
2. Pelaksanaan Penilaian
Penilaian sikap dilakukan oleh guru mata pelajaran (selama proses pembel pedoman pada jam pelajaran) dan / atau di luar jam pembelajaran, guru bimbingan konseling (BK), dan wali kelas (selama penerima didik di luar jam pelajaran).
Penilaian sikap spiritual dan sosial dilakukan secara terus-menerus selama satu semester. Penilaian sikap spiritual dan sosial di dalam kelas maupun diluar jam pembelajaran dilakukan oleh guru mata pelajaran, wali kelas dan guru BK. Guru mata pelajaran, guru BK, dan wali kelas mengikuti perkembangan sikap spiritual dan sosial, serta mencatat sikap penerima didik yang sangat baik atau kurang baik dalam jurnal segera sesudah sikap tersebut teramati atau menerima laporan perihal sikap penerima didik.
Sebagaimana disebutkan pada uraian terdahulu, apabila seorang penerima didik pernah mempunyai catatan sikap yang kurang baik, kalau pada kesempatan lain penerima didik tersebut telah menunjukkan perkembangan sikap (menuju atau konsisten) baik pada aspek atau indikator sikap yang dimaksud, maka di dalam jurnal harus ditulis bahwa sikap penerima didik tersebut telah (menuju atau kon sisten) baik atau bahkan sangat baik. Dengan demikian, untuk penerima didik yang punya catatan kurang baik, yang dicatat dalam jurnal tidak terbatas pada sikap kurang baik dan sangat baik saja, tetapi juga setiap perkembangan sikap menuju sikap yang diharapkan.
Sikap dan sikap penerima didik yang teramati oleh pendidik ini dan tercacat dalam jurnal, akan lebih baik kalau dikomunikasikan kepada penerima didik yang bersangkutan dan kepadanya diminta untuk paraf di jurnal, sebagai bentuk "pengakuan" sekaligus merupakan upaya biar penerima didik yang bersangkutan segera menyadari sikap dan perilakunya serta berusaha untuk menjadi lebih baik.
3. Pengolahan Hasil Penilaian
Langkah-langkah untuk menciptakan deskripsi nilai/perkembangan sikap selama satu semester:
Guru mata pelajaran, wali kelas dan guru BK masing-masing mengelompokkan (menandai) catatan-catatan sikap pada jurnal yang dibuatnya kedalam sikap spiritual dan sikap sosial (apabila pada jurnal belum ada kolom butir nilai).
Guru mata pelajaran, wali kelas dan guru BK masing-masing menciptakan rumusan deskripsi singkat sikap spiritual dan sikap sosial menurut catatan-catatan jurnal untuk setiap penerima didik.
Wali kelas mengumpulkan deskripsi singkat sikap dari guru mata pelajaran dan guru BK. Dengan memperhatikan deskripsi singkat sikap spiritual dan sosial dari guru mata pelajaran, guru BK, dan wali kelas yang bersangkutan, wali kelas menyimpulkan (merumuskan deskripsi) capaian sikap spiritual dan sosial setiap penerima didik.
Pelaporan hasil evaluasi sikap dalam bentuk predikat dan deskripsi.
Berikut yakni rambu-rambu rumusan predikat dan deskripsi perkembangan sikap selama satu semester:
Deskripsi sikap memakai kalimat yang bersifat memotivasi dengan pilihan kata / frasa yang bernada positif. Hindari frasa yang bermakna kontras, misalnya: ... tetapi masih perlu peningkatan dalam ... atau ... namun masih perlu bimbingan dalam hal ...
Deskripsi sikap menyebutkan perkembangan sikap / sikap penerima didik yang sangat baik dan/atau baik dan yang mulai / sedang berkembang.
Deskripsi sikap spiritual "dijiwai" oleh deskripsi pada mata pelajaran PABP, sedangkan deskripsi mata pelajaran lainnya menjadi penguat.
Deskripsi sikap sosial "dijiwai" oleh deskripsi pada mata pelajaran PPKn, sedangkan deskripsi mata pelajaran lainnya menjadi penguat.
Predikat dalam evaluasi sikap bersifat kualitatif, yakni: Sangat Baik, Baik, Cukup, dan Kurang.
Predikat tersebut ditentukan menurut judgement isi deskripsi oleh pendidik.
Apabila penerima didik tidak ada catatan apapun dalam jurnal, sikap penerima didik tersebut diasumsikan BAIK.
Dengan ketentuan bahwa sikap dikembangkan selama satu semester, deskripsi nilai / perkembangan sikap penerima didik didasarkan pada sikap peserta didik pada masa final semester. Oleh alasannya yakni itu, sebelum deskripsi sikap final semester dirumuskan, guru mata pelajaran, guru BK, dan wali kelas harus menyidik jurnal secara keseluruhan sampai final semester untuk melihat apakah telah ada catatan yang menunjukkan bahwa sikap penerima didik tersebut telah menjadi sangat baik, baik, atau mulai berkembang.
Apabila penerima didik mempunyai catatan sikap KURANG baik dalam jurnal dan penerima didik tersebut belum menunjukkan adanya perkembangan positif, deskripsi sikap penerima didik tersebut dirapatkan dalam rapat dewan guru pada final semester. Rapat dewan guru memilih janji perihal predikat dan deskripsi sikap KURANG yang harus dituliskan, dan juga janji tindak lanjut pelatihan penerima didik tersebut. Tindak lanjut pelatihan sikap KURANG pada penerima didik sangat bergantung pada kondisi sekolah, guru dan keterlibatan orang tua/wali murid.
4. Pemanfaatan dan Tindak Lanjut Hasil Penilaian
Perilaku sikap spiritual dan sosial yang teramati dan tercatat dalam jurnal guru, wali kelas maupun guru BK harus menjadi dasar untuk tindak lanjut oleh pihak sekolah. Bila sikap sikap yang kurang termasuk dalam sikap spiritual mau pun sikap sosial, maka tindak lanjut berupa pelatihan terhadap penerima didik sanggup dilakukan oleh semua pendidik di sekolah.
Hasil evaluasi sikap sebaiknya segera ditindak lanjuti, baik ketika pembelajaran maupun sesudah pembelajaran. Hal tersebut dibutuhkan sanggup menjadi bentuk penguatan bagi penerima didik yang telah menunjukkan sikap baik, dan sanggup memotivasi penerima didik untuk memperbaiki sikap yang kurang baik.
Guru BK secara terprogram sanggup membuatkan layanan konseling dan pendampingan pada penerima didik yang mempunyai kekurangan pada sikap sikap spiritual maupun sikap sosial. Pembinaan terhadap sikap sikap yang tergo long kurang, sebaiknya dilakukan sesegera mungkin sesudah sikap diamati.
Revisi Penilaian Kelas Untuk SMP. Assessment is an integral component of any successful teaching effort.. students engage with subject matter based in part on their expectations about how their achievement will be evaluated. [M Lombardi, 2008]. “if you want to change student learning, then change the method of assessment.” [G Brown, et.al., 1997].
Prinsip Penilaian Mengukur capaian kompetensi siswa, Berdasar kriteria (criteria referenced), Berkelanjutan, untuk perbaikan dan peningkatan, Analisa untuk tindak lanjut pembelajaran, Sesuai pengalaman berguru siswa.
Penilaian satuan pendidikan: UTK kelas II, IV, VIII, XI, Ujian Sekolah
Penilaian eksternal (oleh Pemerintah/independent body) : UMTK kelas II, IV, VIII, XI (survey), UN (populasi)
Konsep penilaian
Penilaian dilakukan oleh pendidik baik selama proses pembelajaran (formative assessment) maupun final pembelajaran (summative assessment)
Tujuan penilaian: formatif (membentuk huruf dan perilaku, mengakibatkan pembelajar sepanjang hayat – to drive learning, terampil), diagnostik (melihat perkembangan siswa dan feedback-koreksi pembelajaran), serta mengukur achievement/capaian semoga sanggup dilakukan penilaian hasil pembelajaran
Ranah yang dinilai tidak hanya pengetahuan dan keterampilan, melainkan juga sikap dan sikap (attitude and behavior / penyesuaian dan pembudayaan)
Proses penilaian
lebih sederhana, terjangkau untuk dilakukan, tidak menjadi beban bagi guru/siswa, tetapi tetap mengutamakan prinsip dan kaidah penilaian
Penilaian yang dilakukan tidak hanya “assessment of learning” melainkan juga “assessment for learning” dan “assessment as learning”
Penilaian untuk mengetahui kesulitan berguru siswa sebagai dasar untuk melaksanakan perbaikan
Memungkinkan guru memakai isu kondisi siswa untuk pembelajaran
Formative assessment
Assessment as learning
Fokus pada pemantauan untuk meningkatkan pembelajaran siswa
Memungkinkan siswa untuk bercermin pada capaian dan kemajuan belajarnya sendiri serta menentukan sasaran belajarnya
Summative assessment
Assessment of learning
Menggambarkan capaian yang telah dicapai terhadap pola standar
Membantu guru untuk mengukur capaian siswa terhadap tujuan kompetensi dan standar yang ada
Penyempurnaan pada Penilaian Kelas
Kompetensi Inti
Penilaian Saat Ini
Penyempurnaan
Sikap Spiritual (KI-1) Sikap Sosial (KI-2)
Penilaian dilakukan pada setiap KD dengan memakai banyak sekali teknik (observasi, jurnal, penilaian diri, dan penilaian antar-teman)
KI-1 dan KI-2 tidak dinilai pada setiap KD, dinilai oleh guru berdasar observasi sikap dan sikap siswa sehari-hari dengan tujuan untuk menyebarkan sikap dan huruf (formatif), penilaian untuk laporan ditetapkan dalam rapat dewan guru.
Pengetahuan (KI-3) Keterampilan (KI-4)
Penilaian dilakukan untuk setiap KD dengan banyak sekali teknik: (1) Pengetahuan (Tes Tulis, Tes Lisan, Penugasan) dan (2) Keterampilan (Praktik, Projek, Portofolio). Adanya dikotomi penilaian otentik dan non-otentik
Guru dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan perihal banyak sekali teknik penilaian (beserta kekuatan dan kelemahan masing-masing) Guru diberi kebebasan menentukan teknik penilaian yang sesuai dengan karakteristik KD dan bahan pembelajaran Guru menyusun rencana penilaian yang sinkron dan menyatu dengan RPP Kombinasi banyak sekali teknik dan pendekatan penilaian untuk meningkatkan validitas pengukuran.
Pelayanan bimbingan konseling merupakan pelayanan bimbingan individual yang berkenaan dengan problem diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir penerima didik. Isi atau materi layanan bimbingan konseling berdasarkan kelompok bidang bimbingan, disarankan menyesuaikan situasi, kondisi, dan kebutuhan sekolah, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan sosial.
Setiap layanan dan kegiatan BK, termasuk materi bimbingan yang akan dilaksanakan harus secara eksklusif mengacu pada satu atau lebih fungsi-fungsi BK biar hasil yang akan dicapai secara terperinci sanggup diidentifikasi dan dievaluasi. Fungsi BK meliputi:
Fungsi Pemahaman; fungsi BK yang akan menghasilkan pemahaman wacana sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan keperluan pengembangan siswa. Fungi ini meliputi; a). pemahaman wacana diri siswa (oleh siswa sendiri, guru, orangtua, teman, dan pembimbing), b). pemahaman wacana lingkungan siswa dalam hal lingkungan keluarga dan sekolah (oleh siswa sendiri, guru, orangtua, teman, dan pembimbing), dan c). pemahaman wacana lingkungan yang lebih luas, yakni warta pendidikan, warta jabatan / pekerjaan, warta budaya dan nilai-nilai (oleh siswa).
Fungsi pencegahan; fungsi BK yang akan menghasilkan tercegahnya dan terhindarinya siswa dari aneka macam permasalahan yang akan sanggup mengganggu, menghambat ataupun menjadikan kesulitan-kesulitan dalam proses perkembangannya.
Fungsi perbaikan, yakni fungsi BK yang akan menghasilkan terpecahkan atau teratasinya aneka macam problem yang dialami oleh siswa.
Fungsi pemeliharaan dan pengembangan, yakni fungsi BK yang akanmenghasilkan terpelihara dan terkembangnya aneka macam potensi dan kondisi siswa dalam rangka perkembangan secara mantap dan berkelanjutan.
Bidang Bimbingan konseling meliputi (1) bidang bimbingan pribadi-sosial, (2) bidang bimbingan belajar, dan (3) bimbingan karir.
Bidang bimbingan pribadi-sosial Tugas perkembangan (TP) dalam kelompok pribadi-sosial ini dimaksudkan biar siswa mampu:
memiliki kesadaran diri , yakni menggambarkan penampilan dan mengenal kekhususan diri,
mengembangkan perilaku nyata dan menggambarkan orang-orang yang disenangi,
membuat pilihan secara sehat,
menghargai orang lain,
bertanggungjawab,
mengembangkan keterampilan korelasi antar pribadi,
menyelesaikan konflik,
membuat keputusan secara efektif,
bidang bimbingan belajar, yakni mencapai tujuan dan kiprah perkembangan pendidikan.
Contoh bimbingan pribadi–sosial, antara lain mengendalikan /mengarahkan emosi, mempunyai nilai – nilai kehidupan untuk mengambil keputusan / pemecahan masalah, memahami perkembangan psikoseksual yang sehat, memahami prasangka dan mengkaji akibat-akibatnya, administrasi waktu, lingkungan sekolah, rumah,dan masyarakat, serta keterkaitannya, memahami situasi dan cara-cara mengendalikan konflik, menciptakan keputusan dengan bermacam resiko, mengenal dan menghargai keunikan diri, berpikir dan bersikap positip pada diri dan orang lain, pemanfaatan waktu luang/keterampilan pribadi untuk kesehatan fisik dan mental, menilai keadaan dan keefektifan korelasi sosial dan keluarga, relasi/keterampilan komunikasi positip sepanjang hayat, dan lain-lain
Bidang Bimbingan Belajar TP dalam kelompok perkembangan mencar ilmu ini dimaksudkan biar siswa mampu:
melaksanakan keterampilan atau teknik mencar ilmu secara efektif,
menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan,
belajar secara efektif,
terampil dan bisa dalam menghadapi penilaian / ujian,
bidang bimbingan karir, yakni mewujudkan pribadi pekerja yang produktif.
Contoh materi bimbingan belajar, antara lain: mencar ilmu efektif untuk keberhasilan/prestasi demi masa depan, kekuatan diri dalam belajar, mengatur dan memakai waktu untuk belajar, penilaian keberhasilan dan kegagalan dalam mengikuti ulangan/ujian/tes, mengumpulkan/mempelajari warta penjurusan, mulai mengenal perguruan tinggi tinggi/lembaga pendidikan yang lebih tinggi/studi lanjut, mencar ilmu sepanjang masa/hayat, memahami tujuan pendidikan, siap memasuki perguruan tinggi tinggi, dan lain-lain
Bidang Bimbingan Karir TP dalam kelompok perkembangan karir ini dimaksudkan biar siswa mampu:
membentuk identitas karir,mengenali ciri-ciri pekerjaan di dalam lingkungan kerja,
merencanakan masa depan,
membentuk pola / kecenderungan arah karir dan
mengenal keterampilan, kemampuan, dan bakat.
Beberapa teladan materi/ isi layanan bimbingan karir, antara lain: menilai pola karir, fleksibel dalam pemilihan karir, merencanakan studi lanjut dan penjajagan pilihan karir, membuatkan kecakapan (bakat, minat, keterampilan) untuk keberhasilan hidup, menentukan jurusan dan aktivitas studi, serta pilihan karir secara realistis, membuatkan keterampilan untuk antisipasi perubahan, mengenal konfik peranan yang mungkin terjadi dalam lingkungan karir, legalitas untuk keamanan dan kepastian bekerja, menata kembali tujuan-tujuan karir, peranan dalam keluarga dan pekerjaan, menghadapi diskriminasi/pelecehan dalam dunia kerja, mengenal kemampuan diri (keterampilan/kecakapan) kini dan yang akan datang, dan lain-lain
Penyusunan Program Satuan Layanan atau Rencana Pelaksanaan Layanan BK perlu memperhatikan Judul layanan, Jenis layanan, bidang bimbingan (pribadi, sosial, belajar, karir), fungsi layanan (pemahaman, pencegahan, pengembangan, pemeliharaan), tujuan layanan, hasil yang ingin dicapai, sasaran kegiatan, materi layanan, daerah penyelenggaraan layanan, waktu/tanggal, semester, penyelenggara layanan, pihak-pihak yang disertakan dan perannnya masing-masing, alat dan perlegkapan yang digunakan, planning penilaian dan tindak lanjut layanan.
Untuk mengetahui secara lengkap wacana Pengembangan Diri yang Berupa Pelayanan Bimbingan Konseling di Sekolah, bisa anda unduh file format word pada artikel berikut: Juknis penyusunan kurikulum sd mi
Demikian dari kami, semoga bisa mambantu dan bermanfaat untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Amin...
Penilaian merupakan salah satu bab penting dalam pengelolaan pendidikan untuk mendapat gosip perkembangan penerima didik serta pencapaian standar kompetensi lulusan yang telah ditetapkan. Penilaian oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan bertujuan untuk memantau proses dan kemajuan mencar ilmu penerima didik serta untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran.
Pola evaluasi yang bermutu dibutuhkan sanggup menjadi pemandu pada proses pembelajaran sesuai tuntutan penilaian. Penilaian dengan soal HOTS akan memandu proses pembelajaran dengan memakai strategi, metode dan teknik pembelajaran yang HOTS juga. Dengan demikian evaluasi bukan hanya untuk mengetahui bakteri mencar ilmu tapi juga memperbaiki mutu proses pembelajaran.
Penilaian oleh satuan pendidikan dilakukan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan dan/atau salah satu penentu kelulusan penerima didik. Penilaian oleh pemerintah dan/atau forum berdikari bertujuan untuk pemetaan dan penjaminan mutu pendidikan di suatu satuan pendidikan.
Dengan diterbitkan Petunjuk Teknis Penilaian Hasil Belajar ini, dibutuhkan menjadi salah satu panduan bagi pendidik, satuan pendidikan dan seluruh stakeholder madrasah dalam melakukan evaluasi hasil mencar ilmu di madrasah. Dan dalam panduan ini juga terdapat beberapa rujukan format evaluasi sebagai berikut:
Contoh Rekap nilai Pengetahuan dan Keterampilan
Contoh Interpretasi Hasil Analisis
Contoh hasil rekap evaluasi tematik
Contoh penulisan Kompetensi perilaku pada raport
Contoh perilaku KI-1 dan indikatornya
Contoh perilaku KI-2 dan indikatornya
Contoh Penilaian Produk
Contoh Penilaian Proyek
Contoh Tes Praktik Menghafal surah Al Kautsar
Contoh soal bentuk uraian
Contoh Soal Pilihan Ganda
Contoh Penilaian Antar Teman
Contoh Lembar Penilaian Diri memakai daftar cek (checklist) Pada kegiatan kelompok
Contoh Jurnal Penilaian Sikap Sosial
Contoh Jurnal Penilaian Sikap Spiritual
Contoh format dan pengisian jurnal guru mata pelajaran
Download Petunjuk Teknis (Juknis) Penilaian Hasil Belajar Pada MI MTs
Penilaian otentik (authentic assessment) ialah proses pengumpulan dan pengolahan gosip untuk mengukur pencapaian hasil mencar ilmu penerima didik, yang dilakukan secara komprehensif yang mencakup ranah perilaku spiritual, perilaku sosial, pengetahuan dan keterampilan.
Penilaian otentik mempunyai relevansi berpengaruh terhadap pendekatan ilmiah (scientific approach), alasannya ialah evaluasi ini bisa menggambarkan peningkatan mencar ilmu penerima didik, baik dalam rangka mengamati, menanya, mengeksplorasi, mengasosiasikan dan mengkomunikasikan.
Penilaian otentik merupakan pendekatan dan instrumen evaluasi yang memperlihatkan kesempatan luas kepada penerima didik untuk menerapkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang sudah dimilikinya dalam bentuk tugas-tugas: membaca dan meringkas, eksperimen, mengamati, survei, project, makalah, menciptakan multi media, menciptakan karangan dan diskusi kelas.
Hasil evaluasi otentik sanggup dipakai oleh pendidik untuk merencanakan aktivitas perbaikan (remedial), pengayaan (enrichment), atau pelayanan konseling. Selain itu, hasil evaluasi otentik sanggup dipakai sebagai materi untuk memperbaiki proses pembelajaran yang memenuhi standar evaluasi pendidikan.
Hasil evaluasi pengetahuan dan keterampilan dianalisis untuk memperoleh gosip ihwal pencapaian kompetensi penerima didik. Hasil analisis dipakai untuk mengidentifikasi penerima didik yang sudah mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) KD mata/muatan pelajaran. Bagi penerima didik yang belum mencapai KKM KD, pendidik hams menindaklanjuti dengan remedial, sedangkan bagi penerima didik yang telah mencapai KKM KD, pendidik sanggup memperlihatkan pengayaan.